Minggu, 29 Agustus 2021

Casablanca Halal Mist Hadirkan Cinta yang Halal

 



        Teriakan ibu tidak juga membuat Reyhan beranjak dari laptop kesayangannya. Reyhan asik chating dengan beberapa wanita incarannya. Saat Reyhan sedang senyum-senyum, Ibu memukul pundak Reyhan.

“Rey, Ibu sejak tadi memanggilmu, kenapa tidak menjawabnya.” tanya Ibu.

“Hehehe …. maaf Ibu, Reyhan tidak mendengarnya.” jawab Reyhan sambil menutup laptopnya dan wajahnya nampak kemerahan.

Ibu mengingatkan, bahwa hari ini Reyhan akan membelikan parfum Casablanca Halal Mist kesukaan Ibu dan belanja bulanan. Reyhan tersenyum dan meledek Ibu. Ibu kembali menggoda Reyhan.

“Jangan lama-lama ya perginya. Jangan sampai ada wanita cantik, pesanan Ibu dilupakan.” canda Ibu.

“Tidak ada wanita yang cantik dan sebaik Ibu.” Reyhan memeluk Ibu, mengambil kertas yang berisi barang untuk dibeli, dan berjalan menuju mobilnya.  Ibu tersenyum dan melihat Reyhan sampai bayangnya menghilang.

Reyhan sampai di pusat pembelanjaan. Saat asyik memilih sabun mandinya, Reyhan mulai berulah. Meskipun anak penurut, tetapi Reyhan adalah laki-laki mata keranjang yang sudah terkenal di kampusnya. Tampangnya dan rayuannya membuat wanita cantik dan seksi tak mampu menolaknya. Reyhan mulai mendekati wanita berambut panjang tersebut, tiba di depannya seorang laki-laki yang ternyata suami wanita tersebut. Tak jauh dari tempat Reyhan tampak dua wanita berkerudung pendek yang sedang tertawa dan satunya lagi bercadar yang mencoba meredakan tawa temannya. Reyhan malu dan berakting dan menjauh dari dua wanita tersebut.

Barang-barang yang ada di catatan sudah terbeli, sisa satu lagi parfum kesukaan Ibu. Reyhan mencari dan melihat parfum Casablanca Halal Mist, lalu dia mengambilnya dan saat bersamaan kedua tangan saling memegang parfum tersebut.

“Astagfirullah, maaf.” ucap wanita bercadar.

“Hei, kalian wanita yang tadi, ya. Kenalin, aku Reyhan.” sambil mengulurkan tangan.

Wanita bercadar tidak menerima uluran tangan Reyhan. Tiba-tiba, wanita berkerudung di sampingnya menjelaskan bahwa dalam islam laki-laki yang bukan mukhirmnya dilarang bersentuhan. Keadaan semakin canggung dan membuat seorang Reyhan tidak mampu mengeluarkan rayuannya. Reyhan memberikan parfum yang tinggal satu itu untuk wanita bercadar, tetapi wanita itu menolaknya dengan alasan Reyhan yang lebih dulu memegangnya. Kedua wanita tersebut meninggalkan Reyhan. Reyhan masih terkesima, karena sikap wanita bercadar dan aroma wangi yang dipakai mirip dengan aroma parfum Ibu.

Pertemuan dengan wanita bercadar membuat Reyhan tak bisa melupakannya. Ada sesuatu yang mulai tumbuh. Wanita yang berbeda dari sebelumnya. Reyhan mulai menepis rasa yang mulai tumbuh, tetapi tak bisa. Pertemuan pun kembali hadir. Di tempat yang sama dengan wanita yang sama. Reyhan tak bisa meluluhkan hati wanita bercadar itu. Bahkan, namanya saja Reyhan tidak tahu.

Rasa yang dipendamnya semakin membuncah. Perhatiannya tertuju pada wanita bercadar itu. Wanita yang dia kencani pun satu persatu dia tinggalkan. Tiba di saat putus asanya, Reyhan bercerita kepada Ibu. Reyhan menghampiri Ibu yang sedang menonton youtube Teladan Cinema.

“Ibu, serius sekali menonton Teladan Cinemanya.” Memang cerita tentang apa sih?” ucap Reyhan penasaran.

“Rey, Ibu selama pandemik ini senang sekali melihat cerita-cerita yang ada di youtube Teladan Cinema ini, dikarenakan ceritanya bagus dan sarat akan agama islam.” jawab Ibu menjelaskan.

Reyhan menceritakan perasaannya dan Ibu memberikan nasihat. Reyhan mulai berubah. Reyhan yang sekarang lebih mendekati diri kepada Allah SWT. Kebiasaan yang terdahulu sudah tak dilakukannya lagi. Dia pun meluangkan waktu liburnya denga belajar mengaji. Selesai mengaji Rehan membantu Ibu dan menonton film di Teladan Cinema bersama.

Saat keluar dari mobilnya Reyhan tak sengaja melihat wanita bercadar di depannya. Ternyata wanita itu tinggal di depan rumahnya. Wanita yang sering diceritakan Ibu. Anak dari pak Miswar yang terkenal dengan kesolihaannya. Reyhan tersenyum dan mulai masuk ke dalam menemui Ibu. Reyhan dengan mantapnya mengatakan kepada Ibu, bahwa dia jatuh cintah dan tidak ingin menjadikan wanita cadar itu kekasihnya, tetapi ingin langsung menikahinya sebagai cinta halalnya. Ibu tersenyum dan tak percaya. Lalu, Reyhan meminta Ibu untuk mendampinginya berkunjung ke rumah bercadar itu pada hari Minggu ini.

Hari Minggu pun tiba, Reyhan menyiapkan bingkisan kesukaan wanita bercadar itu yang bernama Merina. Nama yang baru diketahuinya dari Ibu. Nama yang dipuja sebagai nama paling indah di dunia. Reyhan dan Ibu menuju rumah Merina dengan protokol kesehatan yang lengkap. Ibu merina membukakan pintu dan mempersilakan keduanya masuk. Reyhan mengutarakan niatnya kepada kedua orang tua Merina. Merina yang datang membawakan minum kaget, ternyata tamu itu adalah laki-laki yang selama ini bertemu di pusat pembelanjaan dan datang ingin menghalalkannya. Namun, keberanian Reyhan tak dapat mengubah takdir. Merina sudah menerima pinangan Firman yang datang seminggu lebih dulu. Raut wajah Reyhan menjadi memerah dan Nampak kekecewaan. Kedua keluarga berbicara secara kekeluargaan dan saling menerima satu sama lain.

Reyhan kecewa dan sedih, Ibu mencoba menghiburnya. Kekhawatiran Ibu tak seperti kejadiannya. Meskipun kecewa Reyhan tetap menjadi Reyhan yang sekarang. Rasa cinta pada makhluk-Nya tidak melebihi kecintaannya pada Rob-Nya. Reyhan melakukan aktivitasnya seperti biasa, semua yang terjadi membuatnya ikhlas dalam menerima takdir-Nya. Reyhan tak sengaja bertemu dengan Merina saat sedang lari pagi. Merina mencoba menghindar dari Reyhan, tetapi Reyhan memberhentikan langkahnya.

“Bolehkah saya berbicara sebentar?” pinta Reyhan memelas.

Merina berhenti dan menoleh ke Reyhan. Pandangnya ke bawah, tak berani memandang seseorang yang bukan muhrimnya.

          “Merina, saya tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Lewat parfum Casablanca Halal Mist, temu pertama kita, hingga aku tahu cinta yang halal itu. Aku berharap kelak Allah mengirmkanku wanita solihah juga. Mungkin bukan denganmu, tetapi aku yakin Allah sudah menyiapkannya untukku. Semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu dan doakan saya untuk segera menghalalkan wanita solihah juga.” ujar Reyhan dengan mantap dan bijaksana.

          “Saya pasti akan doakan, terima kasih atas doa dan semua rasa yang, Mas Reyhan berikan. Saya senang dengan sikap Mas Reyhan yang hari ini. Semoga doa yang diutarakan dikabulkan oleh Allah.” balas Merina dengan kelembutan hatinya.

          Merina pun meninggalkan Reyhan yang masih saja berdiri di tempatnya. Wajahnya tak lagi kecewa. Terlihat lega dan bahagia. Saat sampai di rumah Ibu tersenyum dari balik pintu rumah sambil memegang sebuah foto. Foto itu diberikan Ibu kepada Reyhan. Ibu menceritakan kepada Reyhan tentang wanita yang ada di dalam foto itu. Takut kejadian mngkhitbah Merina terulang lagi, Reyhan pun bergegas mandi dan bersiap-siap. Dia ingin langsung menghalakan wanita di dalam foto itu.

          “Lewat Casablanca Halal Mist aku bertemu dengan dia yang mengajariku arti cinta halal. Darinya aku menemukan cinta sejati dan menghalalkan dia jodoh pemberian Allah.” suara hati Reyhan sambil menyunggingkan senyuman.

Senin, 03 Mei 2021

Di Bawah Naungan Buku GPU Tempat Adaptasi saat Pandemi Hadir

 


Bumi pertiwi sedang dihadapkan pada permasalahan yang luar biasa. Banyak penghuni Indonesia yang terkapar dan hampir semua sektor terhenti. Semua itu disebabkan oleh makhluk yang berukuran kecil. Ya, virus Corona namanya. Akibat kehadirannya, banyak orang yang dilarang keluar rumah dan harus beraktivitas di dalam rumah. Saat keluar rumah harus menggunakan masker dan menjaga jarak dengan orang lain. Tak ada sapa dan senyum manis khas orang Indonesia. Kita bagaikan makhluk tak bersosial, asing satu sama lain. Selain itu, PHK terjadi di beberapa perusahaan, pengangguran, dan angka kemiskinan pun meningkat. Tak heran kejahatan merebak di berbagai daerah.

Kejadian yang disebabkan oleh virus Corona dan penyebarannya yang begitu cepat juga mempengaruhiku. Beberapa hari kemudian, aku mengalami masa di mana akupun tidak dapat memahaminya. Aku mengalami ketakutan yang luar biasa dan aku merasa seperti sedang terkurung di suatu tempat. Hitam dan gelap. Setiap aku mendengar berita tentang Corona membuatku tak nyaman dan memengaruhi kesehatan fisik serta mentalku. Asam lambungku kambuh dan tiga hari berturut-turut tak dapat tidur. Berkali-kali aku pergi ke rumah sakit dan bobot tubuhku menyusut. Tak ada lagi hari di mana aku semangat bekerja dan melakukan hobiku. Kegiatan menulis terhenti (novel pun tidak selesai), pergi ke Gramedia untuk membeli buku tiap sebulan sekali pun tidak aku lakukan, dan aku hanya bisa berdiam diri di rumah. Hampir semua media sosialku berisi tentang berita Corona, hingga membuatku tak pernah sembuh dari sakitku. Suatu hari, aku pergi ke rumah sakit Siloam dan aku didiagnosa penyakit asam lambung dan sindrom stres. Dokter menganjurkanku untuk tidak melihat berita Corona dan tidak memikirkan tentang Corona.

Selain pergi ke rumah sakit, aku pun berkonsultasi kepada seorang teman yang kebetulan adalah psikolog. Selesai bercerita temanku memberikan beberapa saran, mulai dari mengaji, mendengarkan musik, berolahraga, dan membayangkan hal-hal yang indah. Aku pun mulai mendengarkan saran dari dokter dan temanku. Aku mengaji, membatasi menonton televisi, menonaktifkan media sosial, dan membaca buku kembali yang aku beli di Gramedia terdekat yang ada di sekitar rumahku. Semuanya aku lakukan dengan perlahan dan berusaha menguatkan. Awalnya begitu berat, tetapi perlahan kondisiku berangsur membaik. 

Selama satu tahun lebih hidup berdampingan dengan Corona, mengingatkanku pada awal kehadirannya. Bagaimana aku begitu rapuh, aku yang saat itu tidak siap menerima adanya kehadiran makhluk ini. Aku yang menyakiti diriku sendiri karena ketakutanku yang berlebihan. Aku lupa, bahwa semua itu adalah takdir dari-Nya. Kita adalah hamba yang harus menjalani semua kehendak-Nya dengan segala ketaatan hanya pada Allah. Kejadian ini pun mengingatkanku, aku adalah manusia yang lemah tanpa kuasa dan rahmat dari-Nya.

Hari berganti, aku menikmati kegiatanku di rumah. Selain dekat dengan keluarga, aku jadi semakin rajin membaca buku. Biasanya dalam satu bulan aku hanya membaca satu buku. Namun, saat Corona hadir aku bisa membaca tiga buku dalam sebulan. Awalnya, aku membeli buku dengan cara online, tetapi sudah satu tahun berjalan di rumah saja aku memberanikan diri pergi ke Gramedia yang dekat dengan rumahku. Aku pergi ke Gramedia dengan berjalan kaki, karena dekat sekali dengan rumahku. Saat datang ke Gramedia aku diperlihatkan pada pertunjukan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Ya, biasanya di akhir pekan Gramedia ramai pengunjung, tetapi hari ini aku melihat sepi sekali pengunjungnya. Ada dua sampai lima orang. Saat di dalamnya aku begitu nyaman dan tenang, seakan keadaan dunia khususnya Indonesia sedang baik-baik saja. Namun, khayalku hilang saat aku menyentuh masker yang ada di wajahku. Aku tersenyum, dan menyadari semua itu tak nyata. Aku mulai mencari buku yang inginku beli. Saat mencari aku mendengar lagu-lagu yang menenangkan. Inilah salah satu hal yang aku rindukan. Aku menyukai membeli buku langsung datang ke Gramedia dibandingkan online. Saat memilih buku kita disuguhkan dengan irama musik yang menenangkan pikiran, tak heran bisa berjam-jam memilih buku hingga membaca buku, bahkan pernah satu buku aku baca sampai selesai. Lupa judulnya apa. Lalu, aku pun membeli buku tersebut.

Aku banyak membaca buku tentang novel yang topik pembicaraannya tentang seorang perempuan, kehidupan sosial pada masa lalu, dan penulisnya juga perempuan serta ada juga yang laki-laki. Mulai dari buku karya Ayu Utami dengan judul Saman dan Si Parasit Lajang, Mira W. dengan judul Sisi Gelap Cinta dan ARINI, Masih ada Kereta yang akan Lewat, Tere Liye dengan judul Berjuta Rasanya, About Love, Tentang Kamu, dan Rindu, Ahmad Tohari dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk, Eka Kurniawan dengan judul Cantik itu Luka, hingga novel terjemahan karya Lisa Kleypas dengan judul Dreaming of You, Sidney Sheldon yang berjudul If Tomorrow Comes, dan lain-lainnya.

Buku-buku terbitan Gramedia Pustaka Utama tersebut, memberiku kebiasaan untuk rajin membaca dan membangkitkan semangatku untuk menulis lagi. Dunia yang tadinya terasa sempit, gelap, dan menakutkan menjadi terasa indah dan menyenangkan. Fisik kita memang terbatas untuk bersosialisasi dan menjelajah dunia saat ini, tetapi lewat buku tak ada batas menjelajah dunia dan menemukan hal-hal yang baru. Perjuangan dan permasalahan hidup tokoh yang ditampilkan dalam novel tersebut memberiku pelajaran dan semangat. Hidup sesulit apapun harus tetap dijalani.

Buku-buku tersebut menemaniku di setiap harinya, hingga rasa takut terhadap Corona perlahan menghilang. Aku mulai terbiasa hidup berdampingan dengan Corona, kebiasaan-kebiasaan yang baru, sudah tidak takut lagi saat mendengar berita tentang Corona baik di televisi maupun di media sosial, mulai mengaktifkan lagi media sosial, kembali menulis novelku yang sempat terhenti, dan aku juga membuat podcast.

Berbicara tentang menulis, sebenarnya aku sudah menulis buku antologi puisi dan cerpen. Novel yang seharusnya tahun 2020 sudah selesai, tetapi gagal dikarenakan virus Corona hadir ke Indonesia. Kini, berkat buku-buku dari GPU aku dapat menyelesaikan novel pertama dan aku mencoba mengirimkannya ke penerbit Gramedia, berharap dapat diterbitkan oleh Gramedia. Suatu saat nanti, amin.

Selain aktif kembali menulis, aku pun membuat podcast. Di podcast ini aku membahas tentang serba-serbi perempuan. Hal ini terinspirasi dari beberapa buku yang aku baca dan penulisnya pun perempuan. Perempuan mungkin dipandang lemah oleh sebagian orang, tetapi sebagai seorang perempuan aku ingin membuktikan kepada semua, bahwa perempuan itu tidak lemah. Mereka itu kuat dengan kesabaran, kelembutan, dan kesetiaannya. Podcastku dapat didengarkan di https://anchor.fm/dessi-surya. Podcast ini juga dibuat sebagai tempat pengganti pekerjaanku yang lain. Biasanya aku sering menjadi MC di berbagai kegiatan, tetapi semenjak virus itu datang pekerjaan menjadi MC pun terhenti. Namun, setelah membaca buku dan terinspirasi aku pun membuat podcast, hingga aku kembali mendapatkan kegiatan public speaking-ku.

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu aku yang takut hingga membatasi aktivitasku, kini sudah terbiasa dengan kedaan yang sekarang. Aku akan terus membaca, menulis, dan berbicara. Mungkin aktivitas tatap muka di luar rumah terbatas. Namun, lewat buku dan teknologi yang semakin berkembang tidak akan membatasi imajinasi dan cita-citaku. Terima kasih GPU, kau telah menemukan penulis-penulis hebat dengan cerita yang luar biasa. Cerita yang dapat membangkitkan semangat dan harapan baru. Jangan pernah lelah untuk memberikan ruang pada karya-karya yang luar biasa, karena lewat karya seseorang dapat terinspirasi dan termotivasi. Terima kasih GPU, kau telah menaungiku di saat-saat tersulitku karena pandemi ini hadir dengan tiba-tiba tak ada yang siap atas kehadirannya apalagi bersiaga. Segera pulih negeriku, pergilah kau virus Corona, dan untuk GPU teruslah berinovasi serta memproduksi banyak karya. Aku tunggu karya-karya terbarunya di sini.

Sabtu, 10 April 2021

SI BAIK HATI YANG SUKA MENOLONG


 (Naskah Drama untuk Siswa SD) 

BABAK PERTAMA

Cahaya matahari yang hangat membawa suasana yang nyaman di rumah keluarga pak Hartono yang dikenal dengan keluarga yang harmonis, ia memiliki dua orang anak yang cerdas dan rukun. Setiap paginya pak Hartono mengantar kedua anaknya ke sekolah. Nama kedua anaknya adalah Sintia yang duduk di kelas 2 dan Budi di kelas 6. Keduanya bersekolah di “Homeschooling Kak Seto”

Srttttttttttt…. Suara rem mobil terdengar, pertanda Sintia dan Budi sudah sampai di sekolah. Budi dan Sintia pun turun dari mobil dan tak lupa ia pun bersalaman dengan ayah. Setelah itu mobil ayah pun melaju cepat untuk ke kantor, sambil tersenyum Sintia dan Budi bertemu Pak Toni satpam sekolah mereka.

Sintia dan Budi    : (sambil tersenyum menghampiri pak Toni dan bersalaman) “Selamat pagi    Bapak.”

Pak Toni               : (tersenyum dan menerima salam dari mereka) ”Pagi juga, Nak.”

Sintia                    : “Mari Bapak, kami ke kelas dulu, ya!”

Pak Toni               : “Monggo, Nak!”

 

BABAK KEDUA

Mereka berdua meninggalkan pak Toni dan bergegas masuk ke kelas masing-masing. Saat Sintia masuk ke kelas, seperti biasa ia pun menyapa semua teman-temannya.

Sintia               : (Membuka pintu kelas dan melambai-lambaikan tangan) “Selamat pagi teman-teman.” 

Rudi                 : (memegang buku modul) “Pagi juga, Sintia”.

Ana                  : (tersenyum sambil membalas lambaian tangannya Sintia) “Selamat pagi juga Sintia.”

Reno                : (sedang asyik bersama mainannya, tak ada jawabnya)

Tini                 : (menjawab sapaan Sintia dan menghampiri Reno) “Pagi juga, Sin. Eh……. Reno kamu

                            jawab sapaan Sintia!”

Sintia               : (menghampiri Tini dan Reno) “Sudah-sudah, Ni! Reno kamu seharusnya jawab sapaan

                            orang yang menyapamu, ya?”

Reno                : (marah-marah) “Kamu kenapa sih marah-marihin aku, Tin? Akukan lagi main.”

Tini                  : (Kesal) “Kamu ya selalu aja main terus, kapan sih berubahnya?”

Sintia             : “Iya sudah-sudah Tin. Sekarang kenapa kalian bertengkar, coba sekarang kalian baikkan ya! Apa harus aku memberitahukan kepada kak Dewi dulu biar kalian baikkan?” (memegang tangan Tini dan Reno)

Tini dan Reno    : (saling bertatapan dan mengucapkan maaf bersama-sama) “Maaf, ya!”

 

BABAK KETIGA

Tini dan Reno berbaikan beriringan jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00WIB. Sintia mengajak semua teman kelasnya untuk mengikuti opening class di Aula. Di tempat tersebut Sintia dan teman-teman bertemu dengan kakak-kakak tutor yang sedang sibuk menyiapkan peralatan untuk kegiatan pagi itu.

Sintia             : (menghampiri kakak-kakak tutor, bersalaman, dan ikut membantu menyiapkan) “Selamat pagi kak Anto, kak Tiwi, kak Joe, kak Cinta, dan kak Nani.”

Semua Tutor          : (menyambut salam dan tersenyum) “Pagi adik Sintia.” 

Sintia                     : ( mendekati salah satu kakak tutor) “Kak, aku bantu ya menggelar karpetnya?”

Kak Joe                 : (logat jawanya yang kental) “Iya, dek Sintia. Boleh ini yo karpetnya!”


Setelah selesai merapikan tempat kegiatan tanpa sengaja Sintia melihat Reno yang tampak tak perduli dengan kakak tutor yang ada di depannya, ia malah sibuk dengan mobil Tamia miliknya, Sintia yang melihatnya langsung menegurnya dan menyuruhnya untuk bersalaman kepada kakak tutor. Reno pun bersalaman, tidak berapa lama  kegiatan opening class dimulai. Seperti biasanya Sintia aktif bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan kakak tutor yang memimpin acara tersebut. Akhirnya opening class selesai dan semua siswa pun istirahat.

 

 BABAK KEEMPAT

Saat sedang istirahat Reno dan Beni terlibat perselisihan, keduanya saling menyalahkan, dengan kebetulan Sintia sedang berjalan dan bersenandung lagu Frozen menuju kantin sekolah.

Sintia  : (menghentikan senandungnya dan mundur ke belakang) “Reno………….kak Beni…… kenapa

            kalian kok berantem sih? Kan kata kakak tutor gak boleh kalau berkelahi! Coba sekarang kalian 

            baikkan!”

Beni    : (marah-marah) “Ini reno pelit gak boleh pinjam mainannya.”

Reno   : (menangis)

Sintia menyuruh Lia untuk memanggil kak Dewi. Kak Dewi datang lalu Sintia menjelaskan semuanya lalu kak Dewi pun meminta mereka untuk berbaikan. Mereka pun saling memaafkan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Mereka pun semua masuk kelas masing-masing.

 

BABAK KELIMA

Saat di kelas Reno tidak membawa alat tulis, taka da satu teman pun yang mau meminjamkannya.

Kak Dewi          : (menghampiri bangku Reno) “Reno kenapa kamu tidak membawa alat tulis, nak? Reno kak Dewi tanya kenapa kamu tidak membawa alat tulis?”

Reno                      : (mata berkaca-kaca) “Aku lupa kak Dewi.”

Tini                        : (berkomentar) “lupa apa emang tidak mau belajar?”

Kak Dewi          : (memegang pundak Tini) “Tini sudah, mungkin Reno benar-benar lupa, sekarang kakak mau kalian bisa saling menyayangi dan membantu teman kalian yang mengalami kesulitan, ya!”

Semua Siswa         : (menjawab) “Iya, bu”


Proses pembelajaran di kelas pun berjalan lancar, semua murid mendengarkan penjelasan dari kakak tutor, menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kakak tutor, mengangkat tangan saat ingin bertanya, dan izin saat akan keluar buang sampah atau ke toilet. Selain itu, Reno pun bisa mengikuti pembelajaran karena dipinjamkan alat tulis oleh Sintia. Sinar mentari amat terik dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Mereka pun pulang dengan diiringi berdoa bersama dan ucapan sapaan penutup pada kakak tutor sebagai awal perjalanan pulang sekolah mereka.

Minggu, 28 Februari 2021

Wanita Cerdas Pencetak Generasi Gemilang




 “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” 

                                                                      R. A. Kartini.

L

ewat ungkapan di atas yang begitu puitis, Kartini seakan ingin memberitahukan pada generasi setelah dirinya bahwa, perubahan adalah hal yang pasti, karena tidak ada sesuatu yang abadi selamanya. Tidak perlu khawatir, karena habis gelap terbitlah terang dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hal ini dapat kita lihat pada penjelasan fakta berikut ini. Dahulu, jika kita berbicara tentang wanita, selalu identik dengan kemolekan tubuhnya.
 Maka, sudah menjadi rahasia umum dalam kebudayaan kita yang endosentris bahwa tubuh wanita dijadikan ‘magnet’ dalam hal apa pun. Contohnya dalam hal iklan, banyak sekali yang menjadi modelnya adalah seorang wanita yang cantik, bertubuh langsing dan menggunakan baju seksi. Sesungguhnya, hal tersebut sudah tidak adil bagi wanita, karena secara langsung sudah mengeksploitasi tubuh wanita.

Kejadian serupa juga diceritakan oleh penulis Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia. Novel tersebut menceritakan atau melukiskan  kuasa atas tubuh wanita lewat tokoh Nyai Ontosoroh. Dalam kisahnya, seorang wanita hanya dijadikan ‘penghangat ranjang’ oleh para konglomerat laki-laki Belanda. Wanita tidak hanya dijadikan pemuas hasrat saja. Namun, wanita juga tidak diizinkan untuk bersekolah atau memperoleh pendidikan, karena wanita harus menikah dan akan mengurus dapur. Posisi wanita harus selalu berada di bawah laki-laki dan banyak lagi ketidakadilan dan kekerasan yang diperoleh wanita ketika itu. Hal ini pulalah yang akhirnya membawa kegusaran hati Kartini, hingga ia pun memperoleh jawaban perihal ketidakadilan atas dasar persamaan nasib dengan masyarakatnya yang tertindas sebagai wanita. Kartini pun berjuang untuk memotivasi wanita agar bangkit dari diskriminasi tersebut. Mulai dari situ Kartini berjuang dan mengubah posisi wanita yang tadinya direndahkan sekarang bisa bersaing dengan kaum laki-laki, hingga ia pun disebut sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.

Menuju ke abad 21 banyak perubahan yang terjadi pada wanita, meskipun masih ada beberapa  orang yang berpikiran seperti nenek moyang dulu; setinggi-tingginya wanita belajar, maka ia akan di dapur juga. Namun, kondisi saat ini sudah mengalami perubahan. Sudah banyak wanita yang bersekolah dan bekerja seperti laki-laki. Contohnya, banyak wanita yang bersekolah hingga menjadi profesor, ada juga yang bekerja sebagai sopir, dan menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Hal tersebut membuktikan bahwa, wanita sekarang sudah berubah dan tidak direndahkan lagi. Wanita adalah mahkluk yang spesial dan perlu dijaga, karena lewat wanitalah akan terlahir generasi penerus bangsa.

Penulis pun teringat ucapan Sukarno yang mengatakan: Perempuan itu tiang negeri”. Jika kita melihat konteks kalimatnya, maka seharusnya wanita sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sebagai alat yang menjalankannya adalah pendidikan. Wanita wajib memperoleh pendidikan yang baik. Maka, saat wanita itu berpijak di suatu negara atau lembaga, wanita tersebut dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Seorang wanita mempunyai tanggung jawab yang begitu besar. Kelak, ia akan menjadi seorang ibu dan dapat menjaga amanah (anak) dari Tuhan dengan baik. Ibulah pendidik pertama bagi anak-anaknya dan peletak pondasi dasar dalam membentuk pola pikir dan sikap sesuai dengan fitrah agama. Generasi gemilang lahir dari proses yang tidak instan. Semua itu membutuhkan seorang wanita yang cerdas. Ada pun ciri-ciri wanita cerdas, yaitu:

1.      Menanamkan Nilai-nilai

Seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu. Sebagai ibu, maka wajib menanamkan nilai-nilai. Baik nilai agama, sosial, budaya, dan lain-lain kepada anak agar mempunyai pola pikir serta sikap yang baik. Namun, ibu tidak hanya mengajarkan saja tapi dapat mencontohkannya dengan berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Lewat perilaku ibu inilah yang nantinya akan ditiru oleh anak. Oleh sebab itu, seorang ibu pun wajib belajar mengenai nilai-nilai yang ada terutama nilai agama agar anak memiliki pondasi yang kuat dalam menjalankan kehidupan ini kelak. 

2.      Pembelajar

Wanita wajib mendapatkan pendidikan dan berhak bersekolah setinggi-tingginya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh semasa belajar akan bermanfaat dan diamalkan kepada anak. Baik anak sendiri maupun anak orang lain jika kita menjadi seorang guru. Wanita yang sudah menikah dan memiliki anak jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan belajar karena ilmu pengetahuan dan teknologi setiap harinya semakin berkembang. Maka, agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman teruslah belajar. Ketika, ibu mempunyai jiwa pembelajar maka ini akan berdampak kepada anak yang nantinya akan senang belajar dengan ibunya.

3.      Mempunyai Keterampilan

Setiap manusia yang terlahir ke dunia, khususnya wanita pasti memiliki keterampilan. Asah terus keterampilan atau bakat yang dimiliki agar keterampilan ini dapat bermanfaat untuk diamalkan kepada generasi penerus bangsa. Dengan begitu kita pun dapat melihat bakat dan minat anak, sehingga sebagai ibu kita tidak memaksakan kehendak sendiri. Namun, dapat membantu menemukan bakat dan minat anak, hingga mencapai cita-cita yang diinginkan anak.

4.      Sabar dan Lemah lembut

Dalam mengajarkan anak-anak, sebagai seorang wanita harus dengan rasa sabar dan lemah lembut. Kedua sifat tersebut akan membentuk karakter anak yang baik dan lembut. Bayangkan, jika kita mengajarkan dengan keras dan tidak sabaran. Maka, anak akan menjadi pembangkang dan keras kepala.

5.      Suka Memberikan Apresiasi

Saat mendidik anak-anak kita juga perlu memberikan apresiasi. Contohnya, saat anak berhasil mengerjakan sesuatu atau memenangkan perlombaan, maka kita wajib memberikan pujian maupun hadiah. Sebaliknya, jika anak bermalas-malasan dan kalah dalam suatu perlombaan, maka kita wajib memberitahu dan memberikan kata-kata positif untuk memotivasinya. Selain itu, sering berdiskusi atau mengobrol tentang keadaan, perasaan, dan lain-lain yang dirasakan anak serta dengarkan pendapatnya jika itu baik maka izinkan untuk dilakukan. Dengan demikian, anak akan merasa dihargai dan bernilai.

Kelima kriteria wanita cerdas di atas, patut dimiliki oleh semua wanita. Wanita cerdas bukan hanya dari segi ilmu pengetahuan saja tapi dari segi sifat, sikap, dan cara menerapkan kepada anak-anak dengan tepat dan bijak. Menjadi wanita cerdas bukan hanya milik seorang ibu, tetapi milik semua wanita di mana pun berada. Wanita yang bekerja sebagai guru, dosen, dan lain-lain juga harus mempunyai kelima kriteria wanita cerdas di atas.

Dengan demikian, sungguh luar biasanya dirimu wahai wanita. Tuhan memberikan anugerah yang tidak dimiliki laki-laki yaitu menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu yang cerdas akan mencetak generasi gemilang. Semua itu sudah terbukti di dunia ini. Muncul tokoh-tokoh luar biasa, seperti Albert Einstein, Soekarno, Kak Seto, dan lain-lain adalah berkat hasil didikan seorang wanita, yaitu ibu. Maka dari itu, sumbangsih seorang wanita dalam pendidikan sangatlah besar. Wanita hebat dan cerdas tidak hanya mementingkan penampilan saja, tetapi terus berlajar dan memperbaiki diri. Satu  kalimat untukmu, wanita cerdas pencetak generasi gemilang dan melalui tanganmulah masa depan bangsa ini.




Jumat, 19 Februari 2021

MEMBANGUN GAYA HIDUP SEHAT


 

Di zaman sekarang kesehatan bagaikan barang antik yang sulit diperoleh, pasalnya banyak sekali ditemukan orang-orang yang masih muda terkena penyakit kanker dan mulai bermunculan penyakit-penyakit yang baru yang sulit ditemukan obat penawarnya.

Semua yang terjadi itu disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat. Contohnya, banyak masyarakat kita yang kurang peduli dengan lingkungan seperti membuang sampah sembarangan, mengonsumsi makanan cepat saji (Junk Food) adalah cara tepat yang dilakukan oleh orang-orang yang sibuk kerja khususnya bagi wanita/ibu karir dan dianggap lebih praktis, munculnya makanan-makanan yang tidak layak untuk dimakan seperti makanan yang dicampur dengan bahan-bahan kimia yang jika dimakan dalam jangka panjang akan menimbulkan penyakit yang berbahaya bahkan kematian, sering sekali masyarakat kita bermalas-malasan untuk berolahraga padahal olahraga sangat penting untuk menjaga kestabilan tubuh kita, dan merokok yang menjadi gaya hidup padahal mereka sudah tahu bahwa merokok itu dapat merusak sistem kerja organ tubuh. Namun, beberapa dari masyarakat kita kurang peka (sadar) pada hal tersebut.

Untuk membangun gaya hidup sehat perlu melakukan hal-hal sederhana yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Berikut dua ranah dan langkah-langkah yang harus dilakukan setiap hari:

1.      Internal

Internal adalah bagian dalam tubuh manusia yang harus dijaga dan dirawat, sehingga makanan dan keadaan psikis pemiliknya harus stabil. Adapun caranya:

a.       Minum Air Putih

Biasakan meminum air putih minimal satu liter per harinya atau delapan gelas. Selain itu usahakan minum air putih sebelum tidur satu gelas dan kembali meminum air putih sesudah bangun dari tidur, karena tubuh kehilangan banyak oksigen saat malam hari hingga dapat meremajakan sel-sel tubuh.

b.      Makanan Sehat

Memakan makanan sehat merupakan gaya hidup sehat, tidak hanya dapat membantu diet tepat dengan manajemen berat badan, namun dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup sehat ketika usia semakin bertambah serta dapat terhindar dari penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Dengan memakan makanan yang salah maka kita dapat terkena ketiga penyakit mematikan tersebut, hal ini sesuai hasil studi dari World Health Organization (WHO) tahun 2008 menyatakan 63% kematian di dunia disebabkan oleh tiga penyakit yang dipicu oleh pola makan tidak sehat. Gantilah pola makan anda dengan memakan:

ü  Memakan sayur-sayuran yang lebih banyak.

ü  Konsumsi lebih banyak buah, tambahkan ke sereal atau salad. Makanan ini bisa menjadi pengganti makan malam.

ü  Hindarilah makanan cepat saji atau junk food.

ü  Batasi makanan dan minuman tinggi kalori, gula, garam, lemak, dan alkohol.

ü  Minumlah susu rendah lemak atau bebas lemak, seperti susu skim atau yoghurt.

ü  Mengganti minyak kelapa sawit dengan minyak zaitun saat memasak untuk menurunkan resiko terkena penyakit jantung.

ü  Minimal tiga kali sehari makan makanan empat (4) sehat lima (5) sempurna.

c.       Mengatasi Stres

Setiap mahkluk hidup yang beraktivitas, bekerja, bersosialisasi pasti akan mengalami stres. Adapun cara mengatasi stres, di antaranya:

Ø  Dapatkan 8-9 jam tidur setiap malam, karena jam tersebut adalah waktu tidur yang normal dan sehat.

Ø  Selalu berpikir positif.

Ø  Luangkan waktu untuk bersantai dalam setiap harinya.

Ø  Dapat mengatur waktu antara bekerja, bermain, dan beristirahat dengan tepat.

 

2.      Eksternal

Eksternal adalah bagian luar tubuh manusia yang harus dijaga dan dirawat, sehingga keadaan fisik pemiliknya harus stabil. Adapun caranya:

a.       Teratur berolahraga, minimal tiga kali seminggu. Dengan olahraga dapat menjaga keseimbangan tubuh dan dapat menjaga tubuh tetap bugar.

b.      Meditasi yang dilakukan selama delapan minggu secara rutin, membuat orang menjadi penyayang dan merasa bahagia. Hal ini juga dapat mengurangi tekanan darah tinggi, gejala stres, dan depresi.

c.       Berjemur di bawah sinar matahari pada pukul 07.00-09.00 WIB. Sinar matahari bermanfaat untuk kulit agar membantu tubuh memproduksi vitamin D yang dapat melawan penyakit jantung, osteoporosis, kanker, dan depresi.

d.      Jika Anda adalah seorang perokok aktif maka segeralah berhenti merokok, pasalnya menurut para ilmuwan dari Cambridge University rokok memiliki dampak terbesar pada kesehatan Anda. Selain itu, jika Anda bukan perokok maka jauhilah orang yang sedang merokok dan jangan sampai menghirup asapnya, karena itupun dapat mengganggu kesehatan.

e.       Biasakan diri Anda untuk tertawa, karena tertawa setiap hari dapat memberikan dorongan hormon rasa senang sehingga terhindar dari penyakit darah tinggi, jantung, dan stres.

Itulah beberapa cara membangun gaya hidup sehat. Jika Anda menyayangi tubuh anda dan juga sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas anugrah-Nya yang luar biasa, maka dimulai dari diri sendiri. Marilah kita membangun gaya hidup sehat untuk meraih kesehatan, hingga kesehatan tidak menjadi barang antik di negeri ini.

Rabu, 17 Februari 2021

Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah untuk Memperkukuh Identitas Bangsa


 Oleh: Boby Aji Pamungkas, Bunga Pramita, dan Dessi Surya[1]

1.        Pendahuluan

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa negara Indonesia terdiri dari berbagai daerah dan suku, hal tersebut yang membedakannya dengan negara lain (identitas bangsa Indonesia). Identitas bangsa adalah sesuatu yang khas yang ada pada suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain. Indonesia memiliki beraneka ragam bahasa dan sastra daerah di setiap daerahnya yang dapat mendukung untuk memperkukuh identitas bangsa Imdonesia di mata dunia. Di Indonesia terdapat sekitar 655 bahasa daerah yang menggambarkan daerahnya masing-masing.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merupakan negara yang dianugerahi Tuhan dengan kebhinekaan yang luar biasa, terutama keanekaragaman kelompok etnis dan bahasa. Keanekaragaman ini diejawantahkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menegaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dari keanekaragaman. Keanekaragaman merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia, seyogyanya bangsa Indonesia mendukung dan membela kebhinnekaan atau keanekaragaman. Dari segi bahasa, kebhinnekaan tengah terancam oleh laju kepunahan bahasa-bahasa ibu yang sangat cepat.

Salah satu sarana untuk mengukuhkan persatuan nasional adalah dengan membuka sebanyak-banyaknya pintu apresiasi antarsuku bangsa. Sebagaimana kita ketahui dari sejarah masa lalu, di antara satu suku bangsa dengan yang lain terdapat hubungan yang saling merasa “orang lain”, bahkan tidak sedikit pula terdapat ‘tradisi’ hubungan perseteruan antara satu dan lain suku bangsa. Sebagian dari sejumlah perseteruan itu direkayasa atau dipertajam oleh pemerintahan jajahan. Tidak sedikit berkembang penilaian stereotip terhadap suatu suku bangsa tertentu, yang kebenyakan di antaranya bersifat negatif. Warisan perseteruan masa lalu itu sudah tentu harus disikapi lain ketika kita telah dengan sengaja menyatukan diri ke dalam sosok bangsa Indonesia. Mari kita berusaha saling menerima perbedaan-perbedaan budaya yang ada.

 

2.        Pembahasan

Bahasa daerah sangat diperlukan untuk membangun kehidupan bangsa yang cerdas, kompetitif, berprestasi, dan tetap berpihak pada akar budaya bangsa sendiri. Berkenaan dengan sastra, sastra daerah adalah sastra berbahasa daerah dan merupakan unsur kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional. Sastra daerah memiliki kedudukan yang berbeda sebagai wahana ekspresi budaya dalam upaya ikut memupuk kesadaran sejarah serta semangat dan solidaritas kebangsaan. Sastra daerah sebagai salah satu bagian kebudayaan daerah berkedudukan sebagai wahana ekspresi budaya yang di dalamnya terekan antara lain pengalaman estetik, religius, atau sosial politik masyarakat etnis yang bersangkutan. Fungsi sastra daerah antara lain untuk merekam kebudayaan daerah dan menumbuhkan solidaritas kemanusiaan.  

Dalam UUD 1945 pasal 36 yang isinya di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara rakyatnya dengan baik-baik (misalnya, bahasa Jawa, Sunda, Madura, dsb) bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup.

Sebagai warga negara Indonesia, kita tidak boleh kehilangan jati diri kita sebagai suatu bangsa dan sebagai putra daerah, kita tidak boleh kehilangan jati diri kedaerahan kita agar kita tidak tercerabut dari akar budayanya. Sebagai putra daerah, kita tidak boleh kehilangan jati diri kedaerahannya, dan sebagai putra Indonesia, kita tidak boleh kehilangan jati diri kita sebagai suatu bangsa.

Selain terungkap dalam simbol bahasa dan sastra, jati diri kita tercermin pula dari kekayaan seni budaya, adat istiadat atau tradisi, tata nilai, dan juga perilaku budaya masyarakat. Terkait dengan itu, Indonesia amat kaya akan keragaman seni budaya, adat istiadat atau tradisi, dan juga tata nilai dan perilaku budaya. Sebagai unsur kekayaan budaya bangsa, seni budaya, adat istiadat atau tradisi, tata nilai, dan perilaku budaya perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai simbol yang dapat mencerminkan jati diri bangsa, baik dalam kaitannya dengan jati diri lokal maupun jati diri nasional bahkan internasional.

Satu hal lagi yang dapat menjadi simbol jati diri adalah kearifan lokal. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang merupakan pencerminan sikap, perilaku, dan tata nilai komunitas pendukungnya. Kearifan lokal itu dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat, yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah, tembang, permainan, syair, kata bijak, dan berbagai bentuk lain. Kearifan lokal itu sarat nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masa kini yang dapat memperkuat kepribadian dan karakter masyarakat, serta sekaligus sebagai penyaring pengaruh budaya dari luar.

Sebagai simbol jati diri bangsa, bahasa Indonesia harus terus dikembangkan agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi yang modern dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, mutu penggunaannya pun harus terus ditingkatkan agar bahasa Indonesia dapat menjadi sarana komunikasi yang efektif dan efisien untuk berbagai keperluan. Upaya ke arah itu kini telah memperoleh landasan hukum yang kuat, yakni dengan telah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut merupakan amanat dari Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan sekaligus merupakan realisasi dari tekad para pemuda Indonesia sebagaimana diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, yakni menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Sastra daerah, begitu kata itu dipadukan tampak jelas sebuah susunan kata yang antik dan bernilai seni. Ketika mendengar sastra derah, setiap orang akan berfikir bahwa sastra daerah merupakan jenis sastra yang ditulis dalam bahasa daerah. Hal itu tidaklah salah. Ini sejalan dengan pendapat Zaidan, dkk yang mengatakan bahwa sastra daerah adalah gendre sastra yang ditulis dalam bahasa daerah bertema universal (dalam Didipu, 2010: 1).

                                                                                                                                                                 Sastra daerah memiliki kedudukan yang sangat penting ditengah masyarakat. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan sastra daerah dapat menjadi wahana pembelajaran kita untuk memahami masyarakat dan budayanya. Disini sangat jelas terlihat bahwa sastra tidak akan pernah bisa dilepaskan dari konteks kebudayaan. Menurut Tuloli (dalam Didipu, 2010: 7) sastra daerah mempunyai kedudukan sebagai berikut:
1.  Sastra daerah adalah ciptaan masyarakat masa lampau atau mendahului penciptaan sastra Indonesia modern.

2. Sastra daerah dapat dimasukkan dalam salah satu aspek budaya Indonesia yang perlu digali untuk memperkaya budaya nasional.

3. Sastra daerah melekat pada jiwa , rohani, kepercayaan dan adat istiadat masyarakat suatu bangsa dan yang mereka pakai untuk menyampaikan nillai-nilai luhur bagi generasi muda.

4. Sastra daerah mempunyai kedudukan yang strategis dan kerangka pembangunan sumber daya manusia, yaitu untuk memperkuat kepribadiaan keindonesiaan yang bhineka tunggal ika.

    Sastra daerah lebih umum dikenal dengan sastra lisan. Hal ini dikarenakan sastra daerah merupakan jenis sastra yang kebanyakan disebarkan dari mulut ke mulut. Sejalan dengan apa yang dikatakan Endraswara bahwa sastra lisan adalah karya yang disebarka dari mulut kemulut secara turun temurun (2008: 151). Dalam daerah Bolaang Mongondow dikenal dengan istilah monutuy (bertutur).

Karya sastra legendaris asal Bugis, Sulawesi Selatan yaitu La Galigo atau Sureq Galigo, kapasitasnya sebagai kekayaan bahasa dan sastra daerah yang memperkukuh identitas nasional dalam pergaulan antarbangsa, tidak hanya Indonesia tapi juga dunia. Inilah salah satu contoh betapa tradisi dan cerita rakyat mulai terlupakan dan terpinggirkan. Sangat disayangkan apabila legenda dan karya sastra seindah itu punah begitu saja. Legenda yang seharusnya dijaga turun-temurun sebagai warisan budaya.

Walau memang kelihatannya sepele tetapi bila kita tidak mengenal budaya bangsa sendiri, lama kelamaan kita akan menjadi bangsa yang kehilangan jati diri kita. Bangsa yang bingung menghadapi zaman, yang hanya bisa ribut bila ada bangsa lain yang mengklaim budayanya. Padahal sebelumnya kita tidak pernah merawat dan melestarikan kebudayaan itu.

Bangsa yang gagap menghadapi modernisasi dan kapitalisme yang membuka pintu lebar-lebar masuknya kebudayaan asing tanpa menghormati budaya sendiri. Bangsa yang melupakan pesan-pesan moral yang disampaikan nenek moyang melalui legenda, melupakan gotong-royong, melupakan rasa tepo seliro, kerukunan antar umat beragama dan antar warga lainnya. Gedung-gedung tua saksi bisu kebesaran bangsa di masa lampau diruntuhkan untuk diganti dengan mal atau gedung perkantoran yang lebih menguntungkan dari segi ekonomi.

Banyak contoh bangsa yang tidak melupakan jati diri mereka sebagai suatu bangsa dan terbukti mereka menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang tetap menjaga tradisi leluhur mereka, walaupun juga mengikuti arus perkembangan zaman.

Tidak heran bila saat ini muncul kekerasan dimana-mana, bentrok antar kelompok masyarakat dan eforia yang tidak kunjung habis setelah era reformasi. Katanya bangsa Indonesia bangsa yang ramah-tamah, yang menjaga toleransi dan silaturahmi. Lalu kemana nilai-nilai luhur yang disampaikan turun temurun oleh nenek moyang itu? Siapa lagi yang menjaga tradisi dan budaya bangsa kalau bukan bangsa itu sendiri. Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal Malin Kundang atau Lutung Kasaraung hanya sebagai nama tempat atau restoran.

Kembali ke I La Galigo, tanpa hingar-bingar sudah ada usaha untuk menceritakannya kembali oleh generasi muda dalam bentuk novel maupun komik. Semoga usaha mereka yang masih peduli pada budayanya ini tidak akan sia-sia. Seberapapun kecilnya akan sangat berarti untuk menjaga dan mewarisakan budaya ini kepada anak cucu kelak, generasi mendatang, yang tidak hanya larut dalam arus modernisasi tetapi juga dapat mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur mereka.

3.        Penutup

Untuk menjaga kelestarian bahasa dan sastra daerah, bangsa Indonesia harus membuka diri dalam pergaulan antarbangsa dengan mendorong kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional berinteraksi dengan kebudayaan internasional yang positif disertai dengan peningkatan ketahanan terhadap kebudayaan nasional. Bahasa dan sastra daerah sebagai bagian dari bahasa dan sastra nasional harus mendapat perhatian dari semua pihak dengan memberikan perlakuan yang adil, penghargaan serta kesempatan seluas-luasnya agar dapat mempertahankan dan mengembangkan jati dirinya.  

Persatuan bangsa Indonesia terbentuk bukan dari keseragaman, tetapi terbentuk dari keanekaragaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika selalu melekat di hati setiap warga negara Indonesia, karena dengan kebhinekaan inilah bangsa Indonesia ada. Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menyangkut suku-suku, ras-ras, dan agama-agama saja, tetapi juga mencakup bahasa, karena pada hakekatnya bahasa melekat pada diri manusia. Sementara manusia itu sendiri merupakan pelaku kebudayaan.Semua masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas bahasa dan sastra Indonesia, sehingga dapat menumbuhkan kembali semangat nasionalisme, serta menjadikan bahasa dan sastra sebagai identitas bangsa.


4.        Acuan Pustaka

Didipu, Herman. 2010. Sastra Daerah (Konsep Dasar, Penelitian, dan Pengkajiannya). Gorontalo: UNG.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada      University Prees.

Kompas Minggu, 8 Mei 2011.

Nasanius, Yassir. Bhinneka Tunggal Ika dan Bahasa-bahasa Ibu di Indonesia. Bandung: ITB. 2011.

Sedyawati, Edi. Keindonesiaan dalam Budaya: Kebutuhan Membangun Bangsa yang Kuat. Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra. 2007.



[1] Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Perempuan Madrasah Utama Anak Bangsa

  "Pendidikan adalah hal dasar untuk mengokohkan generasi penerus bangsa. Tanpa pendidikan negeri ini akan runtuh. Pendidikan bukan sek...