“Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.”
R. A. Kartini.
|
L |
ewat ungkapan di atas yang begitu
puitis, Kartini seakan ingin memberitahukan pada generasi setelah dirinya bahwa,
perubahan adalah hal yang pasti, karena tidak ada sesuatu yang abadi selamanya.
Tidak perlu khawatir, karena habis gelap terbitlah terang dan setelah kesulitan
pasti ada kemudahan. Hal ini dapat kita lihat pada penjelasan fakta berikut
ini. Dahulu, jika kita berbicara tentang wanita, selalu identik dengan
kemolekan tubuhnya.
Maka, sudah menjadi
rahasia umum dalam kebudayaan kita yang endosentris bahwa tubuh wanita
dijadikan ‘magnet’ dalam hal apa pun. Contohnya dalam hal iklan, banyak sekali yang
menjadi modelnya adalah seorang wanita yang cantik, bertubuh langsing dan
menggunakan baju seksi. Sesungguhnya, hal tersebut sudah tidak adil bagi
wanita, karena secara langsung sudah mengeksploitasi tubuh wanita.
Kejadian serupa juga diceritakan oleh
penulis Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia. Novel tersebut
menceritakan atau melukiskan kuasa atas
tubuh wanita lewat tokoh Nyai Ontosoroh. Dalam kisahnya, seorang wanita hanya
dijadikan ‘penghangat ranjang’ oleh para konglomerat laki-laki Belanda. Wanita
tidak hanya dijadikan pemuas hasrat saja. Namun, wanita juga tidak diizinkan
untuk bersekolah atau memperoleh pendidikan, karena wanita harus menikah dan
akan mengurus dapur. Posisi wanita harus selalu berada di bawah laki-laki dan
banyak lagi ketidakadilan dan kekerasan yang diperoleh wanita ketika itu. Hal
ini pulalah yang akhirnya membawa kegusaran hati Kartini, hingga ia pun memperoleh
jawaban perihal ketidakadilan atas dasar persamaan nasib dengan masyarakatnya yang
tertindas sebagai wanita. Kartini pun berjuang untuk memotivasi wanita agar
bangkit dari diskriminasi tersebut. Mulai dari situ Kartini berjuang dan mengubah
posisi wanita yang tadinya direndahkan sekarang bisa bersaing dengan kaum
laki-laki, hingga ia pun disebut sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.
Menuju ke abad 21 banyak perubahan yang
terjadi pada wanita, meskipun masih ada beberapa orang yang berpikiran seperti nenek moyang
dulu; setinggi-tingginya wanita belajar, maka ia akan di dapur juga. Namun, kondisi
saat ini sudah mengalami perubahan. Sudah banyak wanita yang bersekolah dan
bekerja seperti laki-laki. Contohnya, banyak wanita yang bersekolah hingga
menjadi profesor, ada juga yang bekerja sebagai sopir, dan menjadi pemimpin
sebuah perusahaan. Hal tersebut membuktikan bahwa, wanita sekarang sudah
berubah dan tidak direndahkan lagi. Wanita adalah mahkluk yang spesial dan perlu
dijaga, karena lewat wanitalah akan terlahir generasi penerus bangsa.
Penulis pun teringat ucapan Sukarno
yang mengatakan: “Perempuan
itu tiang negeri”. Jika kita melihat konteks kalimatnya, maka
seharusnya wanita sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang
berkemajuan. Sebagai alat yang menjalankannya adalah pendidikan. Wanita wajib
memperoleh pendidikan yang baik. Maka, saat wanita itu berpijak di suatu negara
atau lembaga, wanita tersebut dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Seorang
wanita mempunyai tanggung jawab yang begitu besar. Kelak, ia akan menjadi
seorang ibu dan dapat menjaga amanah (anak) dari Tuhan dengan baik. Ibulah
pendidik pertama bagi anak-anaknya dan peletak pondasi dasar dalam membentuk
pola pikir dan sikap sesuai dengan fitrah agama. Generasi gemilang lahir dari
proses yang tidak instan. Semua itu membutuhkan seorang wanita yang cerdas. Ada
pun ciri-ciri wanita cerdas, yaitu:
1.
Menanamkan Nilai-nilai
Seorang wanita kelak akan menjadi
seorang ibu. Sebagai ibu, maka wajib menanamkan nilai-nilai. Baik nilai agama, sosial,
budaya, dan lain-lain kepada anak agar mempunyai pola pikir serta sikap yang
baik. Namun, ibu tidak hanya mengajarkan saja tapi dapat mencontohkannya dengan
berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Lewat perilaku
ibu inilah yang nantinya akan ditiru oleh anak. Oleh sebab itu, seorang ibu pun
wajib belajar mengenai nilai-nilai yang ada terutama nilai agama agar anak
memiliki pondasi yang kuat dalam menjalankan kehidupan ini kelak.
2. Pembelajar
Wanita wajib mendapatkan pendidikan
dan berhak bersekolah setinggi-tingginya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh
semasa belajar akan bermanfaat dan diamalkan kepada anak. Baik anak sendiri
maupun anak orang lain jika kita menjadi seorang guru. Wanita yang sudah
menikah dan memiliki anak jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan
belajar karena ilmu pengetahuan dan teknologi setiap harinya semakin
berkembang. Maka, agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman teruslah
belajar. Ketika, ibu mempunyai jiwa pembelajar maka ini akan berdampak kepada
anak yang nantinya akan senang belajar dengan ibunya.
3.
Mempunyai Keterampilan
Setiap manusia yang terlahir ke
dunia, khususnya wanita pasti memiliki keterampilan. Asah terus keterampilan
atau bakat yang dimiliki agar keterampilan ini dapat bermanfaat untuk diamalkan
kepada generasi penerus bangsa. Dengan begitu kita pun dapat melihat bakat dan
minat anak, sehingga sebagai ibu kita tidak memaksakan kehendak sendiri. Namun,
dapat membantu menemukan bakat dan minat anak, hingga mencapai cita-cita yang
diinginkan anak.
4.
Sabar dan Lemah lembut
Dalam mengajarkan anak-anak, sebagai
seorang wanita harus dengan rasa sabar dan lemah lembut. Kedua sifat tersebut
akan membentuk karakter anak yang baik dan lembut. Bayangkan, jika kita
mengajarkan dengan keras dan tidak sabaran. Maka, anak akan menjadi pembangkang
dan keras kepala.
5.
Suka Memberikan Apresiasi
Saat mendidik anak-anak kita juga
perlu memberikan apresiasi. Contohnya, saat anak berhasil mengerjakan sesuatu
atau memenangkan perlombaan, maka kita wajib memberikan pujian maupun hadiah.
Sebaliknya, jika anak bermalas-malasan dan kalah dalam suatu perlombaan, maka
kita wajib memberitahu dan memberikan kata-kata positif untuk memotivasinya.
Selain itu, sering berdiskusi atau mengobrol tentang keadaan, perasaan, dan
lain-lain yang dirasakan anak serta dengarkan pendapatnya jika itu baik maka
izinkan untuk dilakukan. Dengan demikian, anak akan merasa dihargai dan
bernilai.
Kelima kriteria wanita cerdas di atas,
patut dimiliki oleh semua wanita. Wanita cerdas bukan hanya dari segi ilmu
pengetahuan saja tapi dari segi sifat, sikap, dan cara menerapkan kepada
anak-anak dengan tepat dan bijak. Menjadi wanita cerdas bukan hanya milik
seorang ibu, tetapi milik semua wanita di mana pun berada. Wanita yang bekerja
sebagai guru, dosen, dan lain-lain juga harus mempunyai kelima kriteria wanita
cerdas di atas.
Dengan demikian, sungguh luar
biasanya dirimu wahai wanita. Tuhan memberikan anugerah yang tidak dimiliki laki-laki
yaitu menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu
yang cerdas akan mencetak generasi gemilang. Semua itu sudah terbukti di dunia
ini. Muncul tokoh-tokoh luar biasa, seperti Albert Einstein, Soekarno, Kak
Seto, dan lain-lain adalah berkat hasil didikan seorang wanita, yaitu ibu. Maka
dari itu, sumbangsih seorang wanita dalam pendidikan sangatlah besar. Wanita
hebat dan cerdas tidak hanya mementingkan penampilan saja, tetapi terus
berlajar dan memperbaiki diri. Satu kalimat untukmu, wanita cerdas pencetak generasi gemilang
dan melalui tanganmulah masa depan bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar