Minggu, 28 Februari 2021

Wanita Cerdas Pencetak Generasi Gemilang




 “Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.” 

                                                                      R. A. Kartini.

L

ewat ungkapan di atas yang begitu puitis, Kartini seakan ingin memberitahukan pada generasi setelah dirinya bahwa, perubahan adalah hal yang pasti, karena tidak ada sesuatu yang abadi selamanya. Tidak perlu khawatir, karena habis gelap terbitlah terang dan setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hal ini dapat kita lihat pada penjelasan fakta berikut ini. Dahulu, jika kita berbicara tentang wanita, selalu identik dengan kemolekan tubuhnya.
 Maka, sudah menjadi rahasia umum dalam kebudayaan kita yang endosentris bahwa tubuh wanita dijadikan ‘magnet’ dalam hal apa pun. Contohnya dalam hal iklan, banyak sekali yang menjadi modelnya adalah seorang wanita yang cantik, bertubuh langsing dan menggunakan baju seksi. Sesungguhnya, hal tersebut sudah tidak adil bagi wanita, karena secara langsung sudah mengeksploitasi tubuh wanita.

Kejadian serupa juga diceritakan oleh penulis Indonesia yang bernama Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia. Novel tersebut menceritakan atau melukiskan  kuasa atas tubuh wanita lewat tokoh Nyai Ontosoroh. Dalam kisahnya, seorang wanita hanya dijadikan ‘penghangat ranjang’ oleh para konglomerat laki-laki Belanda. Wanita tidak hanya dijadikan pemuas hasrat saja. Namun, wanita juga tidak diizinkan untuk bersekolah atau memperoleh pendidikan, karena wanita harus menikah dan akan mengurus dapur. Posisi wanita harus selalu berada di bawah laki-laki dan banyak lagi ketidakadilan dan kekerasan yang diperoleh wanita ketika itu. Hal ini pulalah yang akhirnya membawa kegusaran hati Kartini, hingga ia pun memperoleh jawaban perihal ketidakadilan atas dasar persamaan nasib dengan masyarakatnya yang tertindas sebagai wanita. Kartini pun berjuang untuk memotivasi wanita agar bangkit dari diskriminasi tersebut. Mulai dari situ Kartini berjuang dan mengubah posisi wanita yang tadinya direndahkan sekarang bisa bersaing dengan kaum laki-laki, hingga ia pun disebut sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.

Menuju ke abad 21 banyak perubahan yang terjadi pada wanita, meskipun masih ada beberapa  orang yang berpikiran seperti nenek moyang dulu; setinggi-tingginya wanita belajar, maka ia akan di dapur juga. Namun, kondisi saat ini sudah mengalami perubahan. Sudah banyak wanita yang bersekolah dan bekerja seperti laki-laki. Contohnya, banyak wanita yang bersekolah hingga menjadi profesor, ada juga yang bekerja sebagai sopir, dan menjadi pemimpin sebuah perusahaan. Hal tersebut membuktikan bahwa, wanita sekarang sudah berubah dan tidak direndahkan lagi. Wanita adalah mahkluk yang spesial dan perlu dijaga, karena lewat wanitalah akan terlahir generasi penerus bangsa.

Penulis pun teringat ucapan Sukarno yang mengatakan: Perempuan itu tiang negeri”. Jika kita melihat konteks kalimatnya, maka seharusnya wanita sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sebagai alat yang menjalankannya adalah pendidikan. Wanita wajib memperoleh pendidikan yang baik. Maka, saat wanita itu berpijak di suatu negara atau lembaga, wanita tersebut dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Seorang wanita mempunyai tanggung jawab yang begitu besar. Kelak, ia akan menjadi seorang ibu dan dapat menjaga amanah (anak) dari Tuhan dengan baik. Ibulah pendidik pertama bagi anak-anaknya dan peletak pondasi dasar dalam membentuk pola pikir dan sikap sesuai dengan fitrah agama. Generasi gemilang lahir dari proses yang tidak instan. Semua itu membutuhkan seorang wanita yang cerdas. Ada pun ciri-ciri wanita cerdas, yaitu:

1.      Menanamkan Nilai-nilai

Seorang wanita kelak akan menjadi seorang ibu. Sebagai ibu, maka wajib menanamkan nilai-nilai. Baik nilai agama, sosial, budaya, dan lain-lain kepada anak agar mempunyai pola pikir serta sikap yang baik. Namun, ibu tidak hanya mengajarkan saja tapi dapat mencontohkannya dengan berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Lewat perilaku ibu inilah yang nantinya akan ditiru oleh anak. Oleh sebab itu, seorang ibu pun wajib belajar mengenai nilai-nilai yang ada terutama nilai agama agar anak memiliki pondasi yang kuat dalam menjalankan kehidupan ini kelak. 

2.      Pembelajar

Wanita wajib mendapatkan pendidikan dan berhak bersekolah setinggi-tingginya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh semasa belajar akan bermanfaat dan diamalkan kepada anak. Baik anak sendiri maupun anak orang lain jika kita menjadi seorang guru. Wanita yang sudah menikah dan memiliki anak jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan belajar karena ilmu pengetahuan dan teknologi setiap harinya semakin berkembang. Maka, agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman teruslah belajar. Ketika, ibu mempunyai jiwa pembelajar maka ini akan berdampak kepada anak yang nantinya akan senang belajar dengan ibunya.

3.      Mempunyai Keterampilan

Setiap manusia yang terlahir ke dunia, khususnya wanita pasti memiliki keterampilan. Asah terus keterampilan atau bakat yang dimiliki agar keterampilan ini dapat bermanfaat untuk diamalkan kepada generasi penerus bangsa. Dengan begitu kita pun dapat melihat bakat dan minat anak, sehingga sebagai ibu kita tidak memaksakan kehendak sendiri. Namun, dapat membantu menemukan bakat dan minat anak, hingga mencapai cita-cita yang diinginkan anak.

4.      Sabar dan Lemah lembut

Dalam mengajarkan anak-anak, sebagai seorang wanita harus dengan rasa sabar dan lemah lembut. Kedua sifat tersebut akan membentuk karakter anak yang baik dan lembut. Bayangkan, jika kita mengajarkan dengan keras dan tidak sabaran. Maka, anak akan menjadi pembangkang dan keras kepala.

5.      Suka Memberikan Apresiasi

Saat mendidik anak-anak kita juga perlu memberikan apresiasi. Contohnya, saat anak berhasil mengerjakan sesuatu atau memenangkan perlombaan, maka kita wajib memberikan pujian maupun hadiah. Sebaliknya, jika anak bermalas-malasan dan kalah dalam suatu perlombaan, maka kita wajib memberitahu dan memberikan kata-kata positif untuk memotivasinya. Selain itu, sering berdiskusi atau mengobrol tentang keadaan, perasaan, dan lain-lain yang dirasakan anak serta dengarkan pendapatnya jika itu baik maka izinkan untuk dilakukan. Dengan demikian, anak akan merasa dihargai dan bernilai.

Kelima kriteria wanita cerdas di atas, patut dimiliki oleh semua wanita. Wanita cerdas bukan hanya dari segi ilmu pengetahuan saja tapi dari segi sifat, sikap, dan cara menerapkan kepada anak-anak dengan tepat dan bijak. Menjadi wanita cerdas bukan hanya milik seorang ibu, tetapi milik semua wanita di mana pun berada. Wanita yang bekerja sebagai guru, dosen, dan lain-lain juga harus mempunyai kelima kriteria wanita cerdas di atas.

Dengan demikian, sungguh luar biasanya dirimu wahai wanita. Tuhan memberikan anugerah yang tidak dimiliki laki-laki yaitu menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu yang cerdas akan mencetak generasi gemilang. Semua itu sudah terbukti di dunia ini. Muncul tokoh-tokoh luar biasa, seperti Albert Einstein, Soekarno, Kak Seto, dan lain-lain adalah berkat hasil didikan seorang wanita, yaitu ibu. Maka dari itu, sumbangsih seorang wanita dalam pendidikan sangatlah besar. Wanita hebat dan cerdas tidak hanya mementingkan penampilan saja, tetapi terus berlajar dan memperbaiki diri. Satu  kalimat untukmu, wanita cerdas pencetak generasi gemilang dan melalui tanganmulah masa depan bangsa ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan Madrasah Utama Anak Bangsa

  "Pendidikan adalah hal dasar untuk mengokohkan generasi penerus bangsa. Tanpa pendidikan negeri ini akan runtuh. Pendidikan bukan sek...