Senin, 03 Mei 2021

Di Bawah Naungan Buku GPU Tempat Adaptasi saat Pandemi Hadir

 


Bumi pertiwi sedang dihadapkan pada permasalahan yang luar biasa. Banyak penghuni Indonesia yang terkapar dan hampir semua sektor terhenti. Semua itu disebabkan oleh makhluk yang berukuran kecil. Ya, virus Corona namanya. Akibat kehadirannya, banyak orang yang dilarang keluar rumah dan harus beraktivitas di dalam rumah. Saat keluar rumah harus menggunakan masker dan menjaga jarak dengan orang lain. Tak ada sapa dan senyum manis khas orang Indonesia. Kita bagaikan makhluk tak bersosial, asing satu sama lain. Selain itu, PHK terjadi di beberapa perusahaan, pengangguran, dan angka kemiskinan pun meningkat. Tak heran kejahatan merebak di berbagai daerah.

Kejadian yang disebabkan oleh virus Corona dan penyebarannya yang begitu cepat juga mempengaruhiku. Beberapa hari kemudian, aku mengalami masa di mana akupun tidak dapat memahaminya. Aku mengalami ketakutan yang luar biasa dan aku merasa seperti sedang terkurung di suatu tempat. Hitam dan gelap. Setiap aku mendengar berita tentang Corona membuatku tak nyaman dan memengaruhi kesehatan fisik serta mentalku. Asam lambungku kambuh dan tiga hari berturut-turut tak dapat tidur. Berkali-kali aku pergi ke rumah sakit dan bobot tubuhku menyusut. Tak ada lagi hari di mana aku semangat bekerja dan melakukan hobiku. Kegiatan menulis terhenti (novel pun tidak selesai), pergi ke Gramedia untuk membeli buku tiap sebulan sekali pun tidak aku lakukan, dan aku hanya bisa berdiam diri di rumah. Hampir semua media sosialku berisi tentang berita Corona, hingga membuatku tak pernah sembuh dari sakitku. Suatu hari, aku pergi ke rumah sakit Siloam dan aku didiagnosa penyakit asam lambung dan sindrom stres. Dokter menganjurkanku untuk tidak melihat berita Corona dan tidak memikirkan tentang Corona.

Selain pergi ke rumah sakit, aku pun berkonsultasi kepada seorang teman yang kebetulan adalah psikolog. Selesai bercerita temanku memberikan beberapa saran, mulai dari mengaji, mendengarkan musik, berolahraga, dan membayangkan hal-hal yang indah. Aku pun mulai mendengarkan saran dari dokter dan temanku. Aku mengaji, membatasi menonton televisi, menonaktifkan media sosial, dan membaca buku kembali yang aku beli di Gramedia terdekat yang ada di sekitar rumahku. Semuanya aku lakukan dengan perlahan dan berusaha menguatkan. Awalnya begitu berat, tetapi perlahan kondisiku berangsur membaik. 

Selama satu tahun lebih hidup berdampingan dengan Corona, mengingatkanku pada awal kehadirannya. Bagaimana aku begitu rapuh, aku yang saat itu tidak siap menerima adanya kehadiran makhluk ini. Aku yang menyakiti diriku sendiri karena ketakutanku yang berlebihan. Aku lupa, bahwa semua itu adalah takdir dari-Nya. Kita adalah hamba yang harus menjalani semua kehendak-Nya dengan segala ketaatan hanya pada Allah. Kejadian ini pun mengingatkanku, aku adalah manusia yang lemah tanpa kuasa dan rahmat dari-Nya.

Hari berganti, aku menikmati kegiatanku di rumah. Selain dekat dengan keluarga, aku jadi semakin rajin membaca buku. Biasanya dalam satu bulan aku hanya membaca satu buku. Namun, saat Corona hadir aku bisa membaca tiga buku dalam sebulan. Awalnya, aku membeli buku dengan cara online, tetapi sudah satu tahun berjalan di rumah saja aku memberanikan diri pergi ke Gramedia yang dekat dengan rumahku. Aku pergi ke Gramedia dengan berjalan kaki, karena dekat sekali dengan rumahku. Saat datang ke Gramedia aku diperlihatkan pada pertunjukan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Ya, biasanya di akhir pekan Gramedia ramai pengunjung, tetapi hari ini aku melihat sepi sekali pengunjungnya. Ada dua sampai lima orang. Saat di dalamnya aku begitu nyaman dan tenang, seakan keadaan dunia khususnya Indonesia sedang baik-baik saja. Namun, khayalku hilang saat aku menyentuh masker yang ada di wajahku. Aku tersenyum, dan menyadari semua itu tak nyata. Aku mulai mencari buku yang inginku beli. Saat mencari aku mendengar lagu-lagu yang menenangkan. Inilah salah satu hal yang aku rindukan. Aku menyukai membeli buku langsung datang ke Gramedia dibandingkan online. Saat memilih buku kita disuguhkan dengan irama musik yang menenangkan pikiran, tak heran bisa berjam-jam memilih buku hingga membaca buku, bahkan pernah satu buku aku baca sampai selesai. Lupa judulnya apa. Lalu, aku pun membeli buku tersebut.

Aku banyak membaca buku tentang novel yang topik pembicaraannya tentang seorang perempuan, kehidupan sosial pada masa lalu, dan penulisnya juga perempuan serta ada juga yang laki-laki. Mulai dari buku karya Ayu Utami dengan judul Saman dan Si Parasit Lajang, Mira W. dengan judul Sisi Gelap Cinta dan ARINI, Masih ada Kereta yang akan Lewat, Tere Liye dengan judul Berjuta Rasanya, About Love, Tentang Kamu, dan Rindu, Ahmad Tohari dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk, Eka Kurniawan dengan judul Cantik itu Luka, hingga novel terjemahan karya Lisa Kleypas dengan judul Dreaming of You, Sidney Sheldon yang berjudul If Tomorrow Comes, dan lain-lainnya.

Buku-buku terbitan Gramedia Pustaka Utama tersebut, memberiku kebiasaan untuk rajin membaca dan membangkitkan semangatku untuk menulis lagi. Dunia yang tadinya terasa sempit, gelap, dan menakutkan menjadi terasa indah dan menyenangkan. Fisik kita memang terbatas untuk bersosialisasi dan menjelajah dunia saat ini, tetapi lewat buku tak ada batas menjelajah dunia dan menemukan hal-hal yang baru. Perjuangan dan permasalahan hidup tokoh yang ditampilkan dalam novel tersebut memberiku pelajaran dan semangat. Hidup sesulit apapun harus tetap dijalani.

Buku-buku tersebut menemaniku di setiap harinya, hingga rasa takut terhadap Corona perlahan menghilang. Aku mulai terbiasa hidup berdampingan dengan Corona, kebiasaan-kebiasaan yang baru, sudah tidak takut lagi saat mendengar berita tentang Corona baik di televisi maupun di media sosial, mulai mengaktifkan lagi media sosial, kembali menulis novelku yang sempat terhenti, dan aku juga membuat podcast.

Berbicara tentang menulis, sebenarnya aku sudah menulis buku antologi puisi dan cerpen. Novel yang seharusnya tahun 2020 sudah selesai, tetapi gagal dikarenakan virus Corona hadir ke Indonesia. Kini, berkat buku-buku dari GPU aku dapat menyelesaikan novel pertama dan aku mencoba mengirimkannya ke penerbit Gramedia, berharap dapat diterbitkan oleh Gramedia. Suatu saat nanti, amin.

Selain aktif kembali menulis, aku pun membuat podcast. Di podcast ini aku membahas tentang serba-serbi perempuan. Hal ini terinspirasi dari beberapa buku yang aku baca dan penulisnya pun perempuan. Perempuan mungkin dipandang lemah oleh sebagian orang, tetapi sebagai seorang perempuan aku ingin membuktikan kepada semua, bahwa perempuan itu tidak lemah. Mereka itu kuat dengan kesabaran, kelembutan, dan kesetiaannya. Podcastku dapat didengarkan di https://anchor.fm/dessi-surya. Podcast ini juga dibuat sebagai tempat pengganti pekerjaanku yang lain. Biasanya aku sering menjadi MC di berbagai kegiatan, tetapi semenjak virus itu datang pekerjaan menjadi MC pun terhenti. Namun, setelah membaca buku dan terinspirasi aku pun membuat podcast, hingga aku kembali mendapatkan kegiatan public speaking-ku.

Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu aku yang takut hingga membatasi aktivitasku, kini sudah terbiasa dengan kedaan yang sekarang. Aku akan terus membaca, menulis, dan berbicara. Mungkin aktivitas tatap muka di luar rumah terbatas. Namun, lewat buku dan teknologi yang semakin berkembang tidak akan membatasi imajinasi dan cita-citaku. Terima kasih GPU, kau telah menemukan penulis-penulis hebat dengan cerita yang luar biasa. Cerita yang dapat membangkitkan semangat dan harapan baru. Jangan pernah lelah untuk memberikan ruang pada karya-karya yang luar biasa, karena lewat karya seseorang dapat terinspirasi dan termotivasi. Terima kasih GPU, kau telah menaungiku di saat-saat tersulitku karena pandemi ini hadir dengan tiba-tiba tak ada yang siap atas kehadirannya apalagi bersiaga. Segera pulih negeriku, pergilah kau virus Corona, dan untuk GPU teruslah berinovasi serta memproduksi banyak karya. Aku tunggu karya-karya terbarunya di sini.

Perempuan Madrasah Utama Anak Bangsa

  "Pendidikan adalah hal dasar untuk mengokohkan generasi penerus bangsa. Tanpa pendidikan negeri ini akan runtuh. Pendidikan bukan sek...