Dessya
Saat
mendengar kata perempuan, pasti selalu identik dengan kecantikan atau kemolekan
tubuh. Perempuan dilahirkan dengan keindahan. Oleh sebab itu, dia menyukai
hal-hal yang indah dan sesuatu yang tampak pada dirinya adalah keindahan. Di kebudayaan
kita yang endosentris menjadikan tubuh perempuan menjadi “magnet” dalam hal
apapun. Iklan, marketing rokok, mobil, dan lain-lain menggunakan modelnya
adalah seorang perempuan yang langsing dan berpakaian seksi. Secara langsung
hal tersebut sudah tidak adil bagi perempuan, karena telah mengeksploitasi
tubuh mereka.
Peristiwa
serupa juga terdapat dalam novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer
yang menceritakan atau menggambarkan kuasa atas tubuh perempuan melalui tokoh
Nyai Ontosoroh. Dikisahkan seorang perempuan hanya dijadikan ‘penghangat
ranjang’ oleh para konglomerat laki-laki Belanda. Selain menjadi pemuas Hasrat,
ternyata perempuan dilarang untuk bersekolah, karena perempuan harus menikah
dan mengurus dapur. Perempuan pun banyak mengalami ketidakadilan dan kekerasan.
Kejadian dan peristiwa yang dialami perempuan ini memunculkan pahlawan
perempuan seperti R. A. Kartini. Beliau pun berjuang dan memotivasi agar
perempuan bangkit dari diskriminasi tersebut. Namun, kondisi saat ini sudah
mengalami perubahan. Sudah banyak perempuan yang bersekolah dan bekerja seperti
laki-laki. Perempuan adalah mahkluk yang spesial dan perlu dijaga, karena lewat
perempuanlah akan terlahir generasi penerus bangsa. Hal ini pun seperti yang
diucapkan Sukarno yang mengatakan: “Perempuan itu tiang negeri”. Jika
kita melihat konteks kalimatnya, maka seharusnya perempuan sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban
bangsa yang berkemajuan. Sebagai alat yang menjalankannya adalah pendidikan.
Guru
adalah profesi yang dipilih oleh Dessi Surya. Mengapa dia memilih sebagai guru?
Pertama, menurutnya perempuan wajib memperoleh pendidikan yang baik. Perempuan mempunyai
tanggung jawab yang begitu besar. Kelak dirinya akan menjadi seorang ibu dan
dapat menjaga amanah (anak) dari Tuhan dengan baik. Ibulah pendidik pertama
bagi anak-anaknya dan peletak pondasi dasar dalam membentuk pola pikir serta
perilaku sesuai dengan fitrah agama. Selama belum menjadi istri dan ibu, guru
adalah bekal untuk masa depannya nanti.
Perempuan
kelahiran Jakarta ini sudah mengabdikan diri di dunia pendidikan menjadi
seorang guru di Lembaga les, Sekolah Kak Seto, dan menjadi relawan pendidikan selama
11 tahun. Hari Senin sampai Sabtu, yang biasa dipanggil Kak Dessi ini mengajar
di Sekolah Kak Seto dan menjadi relawan pendidikan di Komunitas Berlian serta
Edufic. Hari Minggunya dia gunakan untuk menulis dan berlatih alat musik tradisional
angklung secara manual dari video.
Selain
menjadi cita-citanya, guru adalah sesuatu pekerjaan yang mulia. Pekerjaan ini
dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi orang lain. Dimana seseorang dapat
menemukan minat dan bakatnya. Selain itu, dengan pengajaran dan mendidik yang
tepat dapat membawa orang-orang menjalani hidupnya dengan mandiri dan membatasi
diri dengan norma-norma yang sudah mereka ketahui.
Kak
Dessi dikenal sebagai guru yang pembelajar dan ceria. Peserta didiknya sangat
senang jika diajarkan olehnya. Selain itu, Kak Dessi pun mampu memotivasi
peserta didiknya untuk percaya diri mengasah dirinya dengan mengikuti banyak
perlombaan. Hal ini dilakukan agar peserta didiknya mendapatkan pengalaman
terkait sesuatu yang diraih dengan usaha dan kerja kerasnya. Memotivasinya tidak
hanya lewat bicara saja, tetapi Kak Dessi pun memberikan contoh dengan
mengikuti perlombaan terkait pendidikan (guru). Terbukti Kak Dessi meraih Juara
Harapan 1 Tingkat Nasional Media Pembelajan Inovatif di ajang Apresiasi Tutor
Pendidikan Kesetaraan Indonesia Forum Tutor
Pendidikan Kesetaraan Nasional (DPP-FTPKN) dan Juara Harapan 1 Tingkat
Nasional Lomba Media Pembelajaran Inovatif di ajang Festival Pendidikan
Kesetaraan pendukung Hari Aksara Internasional dari Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Hal ini dilakukan agar dapat
dicontoh oleh peserta didiknya.
Perempuan
yang dikenal dengan kata-katanya yang puitis ini juga banyak mengikuti
komunitas kepenulisan. Dia sudah mempunyai beberapa buku kumpulan antologi
puisi, novel, artikel, dan podcast. Hal ini dilakukan agar pengalaman yang
dialami dapat dibukukkan dan bermanfaat untuk orang lain. Dia juga banyak
mengikuti pelatihan-pelatihan guru agar dapat memberikan pengajaran yang
menyenangkan bagi peserta didiknya. Selain mengajar peserta didik yang mampu,
Kak Dessi juga mendidik peserta didik yang kurang mampu. Menurutnya Pendidikan itu
berhak didapatkan oleh semua orang tanpa melihat strata sosialnya, fisik, dan
lain-lain.
Pendidikan
adalah hal dasar untuk mengokohkan generasi penerus bangsa. Tanpa pendidikan
negeri ini akan runtuh. Pendidikan bukan sekedar mentransfer ilmu kepada
peserta didik, tetapi memberikan pengalaman kepada mereka untuk cerdas akademik
dan berbudi pekerti yang luhur. Perempuan yang kelak menjadi seorang ibu adalah
madrasah utama bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, perempuan harus terus belajar
agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang gemilang.
Dessya
adalah nama pena Kak Dessi di media sosial dan buku karyanya mengajak perempuan
tidak hanya berfokus untuk cantik saja, tetapi asahlah diri untuk selalu belajar
dan belajar. Selain kecantikan ada hal yang lebih penting yaitu kecerdasan. Kecerdasan
diraih dari Pendidikan oleh sebab itu perhatikan juga ilmu yang kita miliki. Kelak
kita yang belum menjadi ibu dan yang sudah menjadi ibu dapat mengajarkan kepada
anak-anak kita ilmu yang tepat. Meletakkan pondasi yang kuat agar mereka
menjadi penerus bangsa yang luar biasa. Perempuan kamu sudah terpilih menjadi
madrasah utama bagi anak bangsa. Fokuslah untuk terus belajar dan menjadi guru
yang hebat untuk generasi yang gemilang.
