Bumi
pertiwi sedang dihadapkan pada permasalahan yang luar biasa. Banyak penghuni
Indonesia yang terkapar dan hampir semua sektor terhenti. Semua itu disebabkan
oleh makhluk yang berukuran kecil. Ya, virus Corona namanya. Akibat
kehadirannya, banyak orang yang dilarang keluar rumah dan harus beraktivitas di
dalam rumah. Saat keluar rumah harus menggunakan masker dan menjaga jarak
dengan orang lain. Tak ada sapa dan senyum manis khas orang Indonesia. Kita
bagaikan makhluk tak bersosial, asing satu sama lain. Selain itu, PHK terjadi
di beberapa perusahaan, pengangguran, dan angka kemiskinan pun meningkat. Tak
heran kejahatan merebak di berbagai daerah.
Kejadian
yang disebabkan oleh virus Corona dan penyebarannya yang begitu cepat juga
mempengaruhiku. Beberapa hari kemudian, aku mengalami masa di mana akupun tidak
dapat memahaminya. Aku mengalami ketakutan yang luar biasa dan aku merasa
seperti sedang terkurung di suatu tempat. Hitam dan gelap. Setiap aku mendengar
berita tentang Corona membuatku tak nyaman dan memengaruhi kesehatan fisik
serta mentalku. Asam lambungku kambuh dan tiga hari berturut-turut tak dapat
tidur. Berkali-kali aku pergi ke rumah sakit dan bobot tubuhku menyusut. Tak
ada lagi hari di mana aku semangat bekerja dan melakukan hobiku. Kegiatan
menulis terhenti (novel pun tidak selesai), pergi ke Gramedia untuk membeli
buku tiap sebulan sekali pun tidak aku lakukan, dan aku hanya bisa berdiam diri
di rumah. Hampir semua media sosialku berisi tentang berita Corona, hingga membuatku
tak pernah sembuh dari sakitku. Suatu hari, aku pergi ke rumah sakit Siloam dan
aku didiagnosa penyakit asam lambung dan sindrom stres. Dokter menganjurkanku
untuk tidak melihat berita Corona dan tidak memikirkan tentang Corona.
Selain
pergi ke rumah sakit, aku pun berkonsultasi kepada seorang teman yang kebetulan
adalah psikolog. Selesai bercerita temanku memberikan beberapa saran, mulai
dari mengaji, mendengarkan musik, berolahraga, dan membayangkan hal-hal yang
indah. Aku pun mulai mendengarkan saran dari dokter dan temanku. Aku mengaji,
membatasi menonton televisi, menonaktifkan media sosial, dan membaca buku
kembali yang aku beli di Gramedia terdekat yang ada di sekitar rumahku.
Semuanya aku lakukan dengan perlahan dan berusaha menguatkan. Awalnya begitu
berat, tetapi perlahan kondisiku berangsur membaik.
Selama
satu tahun lebih hidup berdampingan dengan Corona, mengingatkanku pada awal
kehadirannya. Bagaimana aku begitu rapuh, aku yang saat itu tidak siap menerima
adanya kehadiran makhluk ini. Aku yang menyakiti diriku sendiri karena
ketakutanku yang berlebihan. Aku lupa, bahwa semua itu adalah takdir dari-Nya.
Kita adalah hamba yang harus menjalani semua kehendak-Nya dengan segala
ketaatan hanya pada Allah. Kejadian ini pun mengingatkanku, aku adalah manusia
yang lemah tanpa kuasa dan rahmat dari-Nya.
Hari
berganti, aku menikmati kegiatanku di rumah. Selain dekat dengan keluarga, aku
jadi semakin rajin membaca buku. Biasanya dalam satu bulan aku hanya membaca
satu buku. Namun, saat Corona hadir aku bisa membaca tiga buku dalam sebulan.
Awalnya, aku membeli buku dengan cara online, tetapi sudah satu tahun berjalan
di rumah saja aku memberanikan diri pergi ke Gramedia yang dekat dengan
rumahku. Aku pergi ke Gramedia dengan berjalan kaki, karena dekat sekali dengan
rumahku. Saat datang ke Gramedia aku diperlihatkan pada pertunjukan yang tak
pernah kutemui sebelumnya. Ya, biasanya di akhir pekan Gramedia ramai
pengunjung, tetapi hari ini aku melihat sepi sekali pengunjungnya. Ada dua
sampai lima orang. Saat di dalamnya aku begitu nyaman dan tenang, seakan
keadaan dunia khususnya Indonesia sedang baik-baik saja. Namun, khayalku hilang
saat aku menyentuh masker yang ada di wajahku. Aku tersenyum, dan menyadari
semua itu tak nyata. Aku mulai mencari buku yang inginku beli. Saat mencari aku
mendengar lagu-lagu yang menenangkan. Inilah salah satu hal yang aku rindukan.
Aku menyukai membeli buku langsung datang ke Gramedia dibandingkan online. Saat memilih buku kita
disuguhkan dengan irama musik yang menenangkan pikiran, tak heran bisa
berjam-jam memilih buku hingga membaca buku, bahkan pernah satu buku aku baca
sampai selesai. Lupa judulnya apa. Lalu, aku pun membeli buku tersebut.
Aku
banyak membaca buku tentang novel yang topik pembicaraannya tentang seorang
perempuan, kehidupan sosial pada masa lalu, dan penulisnya juga perempuan serta
ada juga yang laki-laki. Mulai dari buku karya Ayu Utami dengan judul Saman dan Si Parasit Lajang, Mira W. dengan judul Sisi Gelap Cinta dan ARINI,
Masih ada Kereta yang akan Lewat, Tere Liye dengan judul Berjuta Rasanya, About Love, Tentang Kamu, dan Rindu, Ahmad Tohari dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk, Eka Kurniawan dengan judul Cantik itu Luka, hingga novel terjemahan
karya Lisa Kleypas dengan judul Dreaming
of You, Sidney Sheldon yang berjudul If
Tomorrow Comes, dan lain-lainnya.
Buku-buku
terbitan Gramedia Pustaka Utama tersebut, memberiku kebiasaan untuk rajin
membaca dan membangkitkan semangatku untuk menulis lagi. Dunia yang tadinya
terasa sempit, gelap, dan menakutkan menjadi terasa indah dan menyenangkan. Fisik
kita memang terbatas untuk bersosialisasi dan menjelajah dunia saat ini, tetapi
lewat buku tak ada batas menjelajah dunia dan menemukan hal-hal yang baru. Perjuangan
dan permasalahan hidup tokoh yang ditampilkan dalam novel tersebut memberiku
pelajaran dan semangat. Hidup sesulit apapun harus tetap dijalani.
Buku-buku
tersebut menemaniku di setiap harinya, hingga rasa takut terhadap Corona
perlahan menghilang. Aku mulai terbiasa hidup berdampingan dengan Corona,
kebiasaan-kebiasaan yang baru, sudah tidak takut lagi saat mendengar berita
tentang Corona baik di televisi maupun di media sosial, mulai mengaktifkan lagi
media sosial, kembali menulis novelku yang sempat terhenti, dan aku juga
membuat podcast.
Berbicara
tentang menulis, sebenarnya aku sudah menulis buku antologi puisi dan cerpen. Novel
yang seharusnya tahun 2020 sudah selesai, tetapi gagal dikarenakan virus Corona
hadir ke Indonesia. Kini, berkat buku-buku dari GPU aku dapat menyelesaikan
novel pertama dan aku mencoba mengirimkannya ke penerbit Gramedia, berharap
dapat diterbitkan oleh Gramedia. Suatu saat nanti, amin.
Selain
aktif kembali menulis, aku pun membuat podcast. Di podcast ini aku membahas
tentang serba-serbi perempuan. Hal ini terinspirasi dari beberapa buku yang aku
baca dan penulisnya pun perempuan. Perempuan mungkin dipandang lemah oleh
sebagian orang, tetapi sebagai seorang perempuan aku ingin membuktikan kepada
semua, bahwa perempuan itu tidak lemah. Mereka itu kuat dengan kesabaran,
kelembutan, dan kesetiaannya. Podcastku dapat didengarkan di https://anchor.fm/dessi-surya.
Podcast ini juga dibuat sebagai tempat pengganti pekerjaanku yang lain. Biasanya
aku sering menjadi MC di berbagai
kegiatan, tetapi semenjak virus itu datang pekerjaan menjadi MC pun terhenti. Namun, setelah membaca
buku dan terinspirasi aku pun membuat podcast, hingga aku kembali mendapatkan
kegiatan public speaking-ku.
Aku
yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu aku yang takut hingga membatasi
aktivitasku, kini sudah terbiasa dengan kedaan yang sekarang. Aku akan terus
membaca, menulis, dan berbicara. Mungkin aktivitas tatap muka di luar rumah
terbatas. Namun, lewat buku dan teknologi yang semakin berkembang tidak akan
membatasi imajinasi dan cita-citaku. Terima kasih GPU, kau telah menemukan
penulis-penulis hebat dengan cerita yang luar biasa. Cerita yang dapat
membangkitkan semangat dan harapan baru. Jangan pernah lelah untuk memberikan
ruang pada karya-karya yang luar biasa, karena lewat karya seseorang dapat
terinspirasi dan termotivasi. Terima kasih GPU, kau telah menaungiku di
saat-saat tersulitku karena pandemi ini hadir dengan tiba-tiba tak ada yang
siap atas kehadirannya apalagi bersiaga. Segera pulih negeriku, pergilah kau virus
Corona, dan untuk GPU teruslah berinovasi serta memproduksi banyak karya. Aku tunggu
karya-karya terbarunya di sini.
