PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dunia sedang berduka akibat pandemi corona, termasuk negara
Indonesia. Penularan yang begitu cepat membuat pemerintah mengeluarkan aturan physical distancing. Physical distancing adalah pembatasan
fisik. Hal ini berdampak pada semua sektor, termasuk belajar dan mengajar harus
dari rumah. Proses kegiatan belajar mengajar dapat merujuk pada surat edaran Mendikbud nomor 3 tahun 2020 tentang pencegahan
COVID-19 pada satuan pendidikan dan nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang
pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan
penyebaran virus disease.
Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring
tentunya memiliki tantangan tersendiri, karena tutor, peserta didik, maupun
orang tua murid harus beradaptasi dengan sistem ini. Peran teknologi dapat
membantu proses pembelajaran, karena perkembangan teknologi telah memberi
pengaruh terhadap dunia pendidikan. Media-media pembelajaran daring tersebut,
di antaranya, zoom, ruang guru, google classroom, skype, dan lain-lain. Dengan menggunakan media ini, kita dapat
melakukan pembelajaran dari rumah masing-masing tanpa harus bertatap muka
seperti biasanya.
Pada kenyataannya pembelajaran daring yang sudah berjalan
satu tahun ini memberikan beberapa dampak yang kurang baik bagi karakter
peserta didik, di antaranya, peserta didik kurang percaya diri, tidak mandiri, rendahnya
tingkat kedisiplinan, bermalasan dalam menulis, kurang semangat, rendahnya
tingkat kosentrasi, kurangnya minat baca, dan cepat bosan dikarenakan tidak
bisa bermain dengan teman-teman. Sedangkan, peserta didik paket A ini tergolong
masih anak-anak. Di mana pada usianya ini mereka senang bermain. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Kak Seto, yaitu “Dunia
anak adalah bermain. Didiklah anak dengan cara bermain.”
Oleh
sebab itu, Tutor dituntut memberikan pengajaran yang cerdas, kreatif, dan ceria
sesuai dengan tagline di PKBM Kak
Seto. Pembelajaran yang menyenangkan akan memotivasi peserta didik untuk betah
dan berkonsentrasi dalam menerima materi
yang diberikan oleh Tutor. Dengan suasana belajar yang bahagia, peserta didik
akan menganggap seperti bermain meskipun
mereka sebenarnya sedang
belajar dan akan membuat peserta didik ingin
terus belajar seperti mereka
yang selalu senang
saat bermain.
Berdasarkan Perpres 87 tahun 2017 tentang Penguatan
Pendidikan Karakter. PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan
pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah
hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama
antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Isi Perpres tersebut
menyebutkan satuan pendidikan khususnya Tutor sebagai pendidik utama bertanggung
jawab untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkompeten di bidangnya
dan berkarakter dalam kondisi apapun.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan PPK, maka penulis
sebagai Tutor di PKBM Kak Seto akan melaksanakan pendidikan karakter berbasis
kelas online untuk pelajaran yang
diampuh penulis, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. PPK dilaksanakan dengan
mengintegrasikan pendidikan karakter terkait beberapa nilai dalam PPK dengan
proses pembelajaran. Hal ini dilakukan
karena mata pelajaran Bahasa Indonesia masih menimbulkan beberapa
perilaku yang tidak sesuai harapan, karena
dianggap pelajaran yang
menengah sulit (harus membaca dan menulis karya sastra). Termasuk di
PKBM Kak Seto, masih ditemukan beberapa
perilaku yang mencerminkan karakter peserta didik yang harus diubah. Seperti malas
membaca dan menulis, kurang fokus, tidak percaya diri, mudah menyerah, tidak
mandiri, dan malu untuk bertanya.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan dan
pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter, maka penulis berusaha mengembangkan inovasi
strategi pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh
karena itu, penulis menuliskan hasil praktik strategi
pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai upaya membangun karakter peserta
didik paket A yang berjudul “Strategi Pembelajaran Memancing Kata
melalui Kotasik pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Membangun Karakter
Peserta Didik Paket A di PKBM Kak Seto.”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah dikemukakan, maka diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut:
a.
Apa yang dimaksud dengan konsep strategi pembelajaran
Memancing Kata?
b. Bagaimana cara mengimplementasikan strategi
pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik pada peserta didik di PKBM Kak
Seto?
c. Apa hasil dan dampak yang dirasakan dari penerapan
strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto?
d. Apa saja kendala yang dihadapi saat mengimplementasikan
strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto serta solusi yang
dilakukan?
e.
Apa faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi pembelajaran
Memancing Kata di PKBM Kak Seto?
f.
Apa alternatif untuk mengembangkan strategi pembelajaran
Memancing Kata di PKBM Kak Seto?
C. Tujuan
Tujuan dari
penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
a.
Menjelaskan konsep strategi pembelajaran Memancing
Kata.
b. Menggambarkan implementasi strategi pembelajaran
Memancing Kata melalui Kotasik pada peserta didik Paket A di PKBM Kak Seto.
c. Mendeskripsikan hasil dan dampak yang dirasakan dari
penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto.
d.
Menjelaskan kendala yang dihadapi saat implementasi strategi
pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto serta solusi yang dilakukan.
e.
Memaparkan faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi
pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto.
f.
Menjelaskan alternatif pengembangan strategi pembelajaran
Memancing Kata di PKBM Kak Seto.
D.
Strategi Pemecahan Masalah
Untuk menjawab
permasalahan yang telah dipaparkan
di latar belakang, maka dibutuhkan strategi yang tepat
untuk pembangunan karakter peserta didik. Strategi pemecahan masalah yang diterapkan
oleh penulis bernama “Memancing Kata.” Strategi ini menggabungkan strategi pembelajaran
Discovery Learning (penemuan) serta dilaksanakan
dengan beberapa metode pembelajaran yang memiliki kelebihan dalam pembangunan
karakter yang sesuai dengan latar belakang peserta didik. Strategi pemecahan
masalah yang telah dilaksanakan penulis diuraikan dalam bagan berikut:



![]()
![]()



![]()
![]()
PEMBAHASAN
A. Konsep Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran
Memancing Kata merupakan penerapan dari strategi pembelajaran discovery learning. Strategi
pembelajaran discovery learning
adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam pembelajarannya ini
mengatur pengajaran sedemikian rupa, sehingga anak memperoleh pengetahuan yang
sebelumnya belum diketahuinya. Tidak melalui pemberitahuan, tetapi sebagian
atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan
pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan
sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip (Djamarah, 2008: 22).
Pengimplementasian
strategi pembelajaran tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran
di antaranya praktik membuat hasta karya, presentasi, dan blended learning. Metode blended
learning adalah metode yang menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka
melalui video converence. Metode membuat
hasta karya, praktik, presentasi, blended
learning dipilih karena
memiliki kelebihan yang
dapat membangun karakter
peserta didik. Seperti
memunculkan kreativitas, kemandirian, rasa percaya diri, kedisiplinan,
meningkatkan kemampuan menulis, berpikir, dan belajar dengan semangat meskipun
KBM diadakan secara daring.
Dalam pembelajaran
secara online ini, penulis menemukan
strategi pembelajaran yang diberi nama Memancing Kata melalui Kotasik. Arti
nama Memancing Kata adalah menstimulus peserta didik untuk menuliskan kata-kata
sesuai dengan yang dialaminya dan bahasanya masing-masing di dalam kertas.
Lalu, kertas tersebut dimasukkan ke dalam Kotasik. Strategi ini diterapkan sebagai
pengalaman peserta didik dalam meningkatkan kemampuan menulis dan kepercayadiriannya,
bahwa menulis itu mudah. Apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat dituliskan ke
dalam kertas.
Berikut gambaran skema dari strategi
pembelajaran Memancing Kata:
![]() |
|||


![]()


![]()
![]()


![]() |
![]()





Penerapan
strategi Memancing Kata dilakukan dengan penggunaan media yang disebut Kotasik
(Kotak Cerita Asyik). Media ini digunakan saat peserta didik menuliskan
peristiwa yang dialami atau perasaan yang sedang dirasakan dengan bahasanya
masing-masing. Kotasik ini adalah sebuah kotak yang digunakan sebagai teman
peserta didik dalam mencurahkan isi hatinya saat di rumah yang tidak dapat
dikatakan kepada orang lain. Secara tidak langsung peserta didik akan
terstimulus dengan sendirinya menulis kata-kata. Lalu, tulisan yang tadinya berbentuk
narasi diubah menjadi bentuk puisi.
Dengan demikian,
menulis puisi yang dirasakan sulit karena harus menggunakan majas, simbol, dan
lain-lain sudah tidak dirasakan peserta didik lagi. Hal ini mengacu pada
pengertian puisi menurut Herman J. Waluyo, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan
pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan
mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik
dan struktur batin.

Gambar 2.1: Contoh Kotasik (Kotak Cerita
Asik)
B.
Implemantasi Strategi Pembelajaran
1)
Perencanaan.
Konsep
yang ditentukan adalah bentuk, tampilan, bahan, dan alat yang akan digunakan
untuk membuat strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik, yaitu:
a.
Membuat Kotasik dalam bentuk video untuk dikirimkan
kepada peserta didik.
b. Menyiapkan
bahan-bahan yang dibutuhkan sebagai berikut:
1.
Kotak tisu/kotak bekas layak pakai
2.
Gunting
3.
Kertas kado/karton
4.
Lem kertas dan isolatif
c. Peserta
didik mulai mendengarkan video cara menulis puisi dan membuat Kotasik. Praktik
membuat Kotasik, menulis peristiwa yang dialami atau perasaan yang dirasakan di
kertas dan dimasukkan ke dalam Kotasiknya.
2)
Pelaksanaan
Strategi
dilaksanakan pada pertemuan kedua dengan langkah-langkah berikut ini:
-
Peserta didik memulai pembelajaran dengan berdoa.
-
Mengirimkan presensi dengan mengisi link presensi dan
mengirimkan voice note kehadiran di
group whatsapp.
-
Tutor menanyakan Kotasik yang sudah diisi oleh cerita
peserta didik.
-
Peserta didik bergabung ke Google Meet bersama Tutor.
-
Peserta didik menunjukkan Kotasik yang sudah dibuatnya
di pertemuan ke-1.
-
Peserta didik mengambil satu kertas di dalam Kotasik
sesuai dengan petunjuk yang diberikan Tutor.
-
Peserta didik mendengarkan penjelasan Tutor terkait
dengan bentuk puisi.
-
Peserta didik mengubah tulisan di dalam kertasnya
menjadi bentuk puisi dengan didampingi Tutor dan diberikan waktu 10 menit.
-
Peserta didik membacakan puisi buatannya secara
bergantian di Gmeet.
-
Peserta didik mengirimkan puisi buatannya ke Classroom.
3)
Penilaian
Penilaian dilakukan terhadap karakter yang
terbentuk dan hasil belajar peserta
didik secara individu. Penilaian karakter
dilakukan oleh Tutor menggunakan lembar observasi karakter di setiap KBM.
Sedangkan, hasil belajar peserta didik dilihat dari tugasnya. Indikator yang
digunakan dalam penilaian karakter adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1: Indikator Penilaian
Karakter
|
Nilai |
Indikator
Nilai |
|
Percaya Diri: sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri
dalam atau menyelesaikan sesuatu. |
-
Peserta didik mampu mengungkapkan pendapat dengan
yakin -
Peserta didik aktif bertanya dan menjawab dalam
proses pembelajaran. -
Peserta didik menunjukkan sikap percaya diri dalam
berbicara atau melakukan kegiatan dokumentasi. |
|
Mandiri: sikap dan perilaku yang
tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. |
-
Peserta didik
mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri. -
Peserta didik mampu menyelesaikan tugasnya dari awal
hingga akhir secara mandiri |
|
Disiplin: tindakan yang menunjukkan
perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. |
-
Peserta didik datang tepat waktu pada setiap kegiatan
Peserta didik mengumpulkan tugas sesuai jadwal yang ditentukan. -
Peserta didik berpakaian sesuai budaya HSKS. -
Peserta didik mengikuti kegiatan dengan tertib. -
Peserta didik mampu melakukan konfirmasi kehadiran
kepada pihak sekolah. -
Peserta didik mampu mengumpulkan tugas sesuai dengan
waktu yang ditentukan |
|
Gemar Menulis: kesukaan untuk
melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan. |
-
Peserta didik mampu menulis apa yang dialami maupun
dirasakannya. -
Peserta didik memahami isi dari tulisan yang
dibuatnya |
C.
Hasil yang dicapai
Strategi pembelajaran Memancing Kata yang diterapkan
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat II (setara kelas 4 SD) di PKBM
Kak Seto mempengaruhi hasil yang dicapai, yaitu mulai terbentuknya karakter
pada peserta didik. Selain itu, hasil belajarnya pun berangsur meningkat.
Berikut gambaran perbandingan penilaian karakter dan hasil belajar peserta
didik setara kelas 4 PKBM Kak Seto.
Tabel 2.2: Perbandingan
Nilai Karakter
|
No. |
Nama |
Nilai Karakter |
|||||||
|
Sebelum |
Sesudah |
||||||||
|
D |
PD |
M |
GM |
D |
PD |
M |
GM |
||
|
1 |
Khanza
Carrisa Kurniawan |
80 |
67 |
67 |
50 |
93 |
78 |
83 |
83 |
|
2 |
Zeo Clarion
Lytroo |
60 |
78 |
50 |
67 |
87 |
89 |
67 |
83 |
|
3 |
Naila Anjani
Putri Ardi |
73 |
44 |
50 |
50 |
80 |
67 |
67 |
67 |
|
4 |
Brisha
Kinarian Kayana |
73 |
44 |
50 |
50 |
80 |
67 |
67 |
67 |
|
5 |
Malika Jihan
Yusreva |
80 |
78 |
67 |
67 |
93 |
89 |
83 |
83 |
Keterangan: D= Disiplin, PD= Percaya Diri, M= Mandiri,
GM= Gemar Menulis (rincian nilai terlampir)
Tabel perbandingan karakter di atas membuktikan
bahwa, peserta didik mengalami peningkatan dalam karakter percaya diri, mandiri,
disiplin, dan gemar menulis yang dinilai dari indikator yang tertera pada tabel
penilaian yang sudah dijabarkan sebelumnya. Selain itu juga, terdapat
perbandingan nilai Bahasa Indonesia pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.3: Perbandingan Nilai Bahasa Indonesia Pada Latihan Menulis
Puisi ke-1 dan 2.
|
No. |
Nama |
Latihan Menulis Puisi ke-1 |
Latihan Menulis Puisi ke-2 |
|
1 |
Khanza Carrisa
Kurniawan |
75 |
85 |
|
2 |
Zeo Clarion
Lytroo |
65 |
75 |
|
3 |
Naila Anjani
Putri Ardi |
65 |
70 |
|
4 |
Brisha Kinarian
Kayana |
70 |
80 |
|
5 |
Malika Jihan
Yusreva |
80 |
95 |
Dampak yang dapat terlihat setelah
pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik yang telah
dilakukan adalah sebagai berikut:
1.
Peserta didik mengalami perubahan perilaku yang lebih
positif saat pembelajaran Bahasa Indonesia.
2.
Peserta didik lebih kreatif dalam membuat hasta karya.
3.
Peserta didik lebih mandiri belajar di rumah tanpa
bertatap muka.
4.
Peserta didik lebih percaya diri atas kemampuannya
sendiri dan berani tampil di depan teman-temannya.
5.
Peserta didik mulai senang menulis sesuatu yang
dipikirkan dengan bahasanya masing-masing.
6.
Hasil belajar Bahasa Indonesia peserta didik semakin
meningkat khususnya di kemampuan menulis.
7.
Peserta didik lebih semangat saat pembelajaran Bahasa
Indonesia dan tidak mengeluh lagi.
8.
Peserta didik lebih disiplin saat hadir di group whatsapp dan mengumpulkan tugas
sesuai dengan tanggalnya.
E.
Kendala dan Solusi
Adapun kendala yang dihadapi selama pelaksanaan strategi pembelajaran
Memancing Kata melalui Kotasik dan solusi yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
1.
Peserta didik masih
ada yang belum paham mengubah bentuk narasi menjadi bentuk puisi.
Solusinya, orang
tua/wali peserta didik dapat membantu menjelaskan kembali sampai peserta didik
tersebut paham.
2.
Waktu mempresentasikan
hasil tulisan peserta didik di video
conference (Gmeet) habis.
Solusinya, peserta
didik yang belum kebagian presentasi diwajibkan membuat video saat
mempresentasikan hasil tulisannya sesuai dengan tanggal yang disepakati.
F.
Faktor-Faktor Pendukung
Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata
melalui Kotasik mempunyai beberapa faktor yang mendukung. Faktor pendukung
tersebut, di antaranya:
1.
Faktor internal:
adanya keinginan peserta didik dalam mengubah dirinya sendiri ke arah yang
lebih baik.
2.
Faktor eksternal:
ü
Kepala Akademik PKBM
Kak Seto yang memberikan kebebasan kepada Tutor untuk menerapkan strategi
pembelajaran yang baru.
ü
Sarana dan prasarana
yang mudah didapatkan dan memanfaatkan benda yang ada di rumah tanpa harus
keluar rumah.
ü
Kerja sama dengan
orang tua dalam mendampingi peserta didik belajar jarak jauh.
ü
Pendidikan karakter
yang dilakukan dalam lingkup budaya sekolah dan diterapkan di rumah.
Strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik ini
akan dilaksanakan terus dan juga akan diterapkan pada mata
pelajaran lain, seperti Bahasa
Inggris, IPS, IPA, dan PPKn di setiap tingkatan. Sehingga, karakter yang sudah
dibangun dapat lebih kuat dan tertanam dalam diri peserta didik. Namun,
penggunaan media harus disesuaikan dengan pelajaran dan lebih inovatif lagi agar strategi yang diterapkan
tidak monoton. Selain itu, strategi pembelajaran ini juga dapat digunakan di
proses kegiatan belajar mengajar secara online
maupun offline.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan tentang upaya
membangun karakter peserta didik paket A
PKBM Kak Seto dengan penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui
Kotasik (Kotak Cerita Asyik), maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1.
Strategi pembelajaran Memancing Kata menerapkan strategi
pembelajaran discovery learning. Penerapan strategi ini dilakukan dengan metode
praktik membuat hasta karya, presentasi, dan blended learning serta medianya Kotasik (kotak cerita asyik). Arti
dari nama Memancing Kata adalah menstimulus peserta didik untuk menuliskan
kata-kata sesuai dengan yang dialami atau dirasakannya menggunakan bahasanya
masing-masing.
2.
Tahap perencanaan implementasi strategi ini yaitu
dengan membuat video tentang puisi dan dikirimkan kepada peserta didik,
menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, peserta didik mendengarkan video yang
diberikan Tutor, membuat hasta karya Kotasik (kotak cerita asyik), menuliskan
peristiwa yang dialami atau perasaan yang dirasakan di kertas dan dimasukkan ke
dalam Kotasik, dan mengambil satu kertas yang sudah berisi tulisan. Lalu,
mengubah bentuk tulisan narasi menjadi puisi dengan dipandu oleh Tutor melalui Gmeet. Proses penilaian terdapat dua
ranah, yaitu hasil belajar dan penilaian karakter secara individu.
3.
Hasil dan dampak dari penerapan strategi ini adalah
peningkatan karakter peserta didik serta hasil belajarnya. Sebagian besar
peserta didik menunjukkan perubahan perilaku positif saat pembelajaran Bahasa
Indonesia.
4.
Kendala yang dihadapi, yaitu peserta didik masih ada
yang belum paham mengubah tulisan dari bentuk narasi ke puisi dan waktu
mempresentasikan hasil tulisan peserta didik di video conference (Gmeet) habis.
Solusinya, orang tua/wali peserta didik
dapat membantu menjelaskan kembali sampai peserta didik tersebut paham dan
peserta didik yang belum kebagian presentasi diwajibkan membuat video saat
mempresentasikan hasil tulisannya sesuai
dengan tanggal yang disepakati.
5.
Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi
pembelajaran Memancing Kata terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor
internal yaitu adanya keinginan peserta didik dalam mengubah dirinya sendiri ke
arah yang lebih baik. Faktor eksternalnya kebebasan dari kepala akademik PKBM
Kak Seto untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran yang baru, sarana dan prasarana, kerja sama
dengan orang tua/wali peserta didik, dan PPKyang dilakukan dalam lingkup budaya
sekolah serta diterapkan di rumah.
6.
Alternatif pengembangan yang akan dilakukan di PKBM Kak
Seto adalah kelanjutan pelaksanaannya dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan juga
akan diterapkan pada mata pelajaran lain di setiap tingkatan serta dapat
digunakan pada KBM online maupun offline.
B.
Rekomendasi
Adapun
beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh
dari penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata untuk perbaikan dan
pengembangan inovasi ini pada waktu yang akan datang, yaitu:
1.
Bagi lembaga (PKBM Kak Seto) Strategi ini dapat
diterapkan oleh semua Tutor agar mempermudah
dalam penggunaannya, maka
sebaiknya dibuat prosedur penerapan strategi Memancing Kata
ini; dan
2.
Bagi Lembaga lain, Strategi pembelajaran Memancing Kata
ini dapat diaplikasikan di seluruh jenjang pendidikan dan mata pelajaran dengan
materi yang berbeda, karena metode dan media yang digunakan sangat mudah.
