Minggu, 27 Februari 2022

STRATEGI PEMBELAJARAN MEMANCING KATA MELALUI KOTASIK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK PAKET A DI PKBM KAK SETO

 

BAB I 

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Dunia sedang berduka akibat pandemi corona, termasuk negara Indonesia. Penularan yang begitu cepat membuat pemerintah mengeluarkan aturan physical distancing. Physical distancing adalah pembatasan fisik. Hal ini berdampak pada semua sektor, termasuk belajar dan mengajar harus dari rumah. Proses kegiatan belajar mengajar dapat merujuk pada surat edaran Mendikbud nomor 3 tahun 2020 tentang pencegahan COVID-19 pada satuan pendidikan dan nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran virus disease.

Melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring tentunya memiliki tantangan tersendiri, karena tutor, peserta didik, maupun orang tua murid harus beradaptasi dengan sistem ini. Peran teknologi dapat membantu proses pembelajaran, karena perkembangan teknologi telah memberi pengaruh terhadap dunia pendidikan. Media-media pembelajaran daring tersebut, di antaranya, zoom, ruang guru, google classroom, skype, dan lain-lain. Dengan menggunakan media ini, kita dapat melakukan pembelajaran dari rumah masing-masing tanpa harus bertatap muka seperti biasanya.

Pada kenyataannya pembelajaran daring yang sudah berjalan satu tahun ini memberikan beberapa dampak yang kurang baik bagi karakter peserta didik, di antaranya, peserta didik kurang percaya diri, tidak mandiri, rendahnya tingkat kedisiplinan, bermalasan dalam menulis, kurang semangat, rendahnya tingkat kosentrasi, kurangnya minat baca, dan cepat bosan dikarenakan tidak bisa bermain dengan teman-teman. Sedangkan, peserta didik paket A ini tergolong masih anak-anak. Di mana pada usianya ini mereka senang bermain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kak Seto, yaitu “Dunia anak adalah bermain. Didiklah anak dengan cara bermain.”


Oleh sebab itu, Tutor dituntut memberikan pengajaran yang cerdas, kreatif, dan ceria sesuai dengan tagline di PKBM Kak Seto. Pembelajaran yang menyenangkan akan memotivasi peserta didik untuk betah dan berkonsentrasi dalam menerima  materi yang diberikan oleh Tutor. Dengan suasana belajar yang bahagia, peserta didik akan menganggap seperti bermain meskipun  mereka  sebenarnya  sedang  belajar dan  akan  membuat peserta didik  ingin  terus  belajar seperti  mereka  yang  selalu  senang  saat  bermain.

Berdasarkan Perpres 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Isi Perpres tersebut menyebutkan satuan pendidikan khususnya Tutor sebagai pendidik utama bertanggung jawab untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkompeten di bidangnya dan berkarakter dalam kondisi apapun.

Dalam rangka mendukung pelaksanaan PPK, maka penulis sebagai Tutor di PKBM Kak Seto akan melaksanakan pendidikan karakter berbasis kelas online untuk pelajaran yang diampuh penulis, yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. PPK dilaksanakan dengan mengintegrasikan pendidikan karakter terkait beberapa nilai dalam PPK dengan proses pembelajaran. Hal ini dilakukan  karena mata pelajaran Bahasa Indonesia masih menimbulkan beberapa perilaku yang tidak sesuai harapan, karena  dianggap  pelajaran  yang  menengah sulit (harus membaca dan menulis karya sastra). Termasuk di PKBM Kak Seto,  masih ditemukan beberapa perilaku yang mencerminkan karakter peserta didik yang harus diubah. Seperti malas membaca dan menulis, kurang fokus, tidak percaya diri, mudah menyerah, tidak mandiri, dan malu untuk bertanya.

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan dan pentingnya Penguatan Pendidikan Karakter, maka penulis berusaha mengembangkan inovasi strategi pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.  Oleh  karena  itu,  penulis menuliskan hasil praktik strategi pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai upaya membangun karakter peserta didik paket A yang berjudul “Strategi Pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Membangun Karakter Peserta Didik Paket A di PKBM Kak Seto.”

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:

a.       Apa yang dimaksud dengan konsep strategi pembelajaran Memancing Kata?

b.   Bagaimana cara mengimplementasikan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik pada peserta didik di PKBM Kak Seto?

c.      Apa hasil dan dampak yang dirasakan dari penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto?

d.    Apa saja kendala yang dihadapi saat mengimplementasikan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto serta solusi yang dilakukan?

e.       Apa faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto?

f.       Apa alternatif untuk mengembangkan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto?

 

C.    Tujuan

Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:

a.       Menjelaskan konsep strategi pembelajaran Memancing Kata.

b.    Menggambarkan implementasi strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik pada peserta didik Paket A di PKBM Kak Seto.

c.   Mendeskripsikan hasil dan dampak yang dirasakan dari penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto.

d.      Menjelaskan kendala yang dihadapi saat implementasi strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto serta solusi yang dilakukan.

e.       Memaparkan faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto.

f.       Menjelaskan alternatif pengembangan strategi pembelajaran Memancing Kata di PKBM Kak Seto.

 

D.    Strategi Pemecahan Masalah

Untuk  menjawab  permasalahan yang  telah  dipaparkan  di  latar  belakang, maka dibutuhkan strategi yang tepat untuk pembangunan karakter peserta didik. Strategi pemecahan masalah yang diterapkan oleh penulis bernama “Memancing Kata.” Strategi ini menggabungkan strategi pembelajaran Discovery Learning (penemuan) serta dilaksanakan dengan beberapa metode pembelajaran yang memiliki kelebihan dalam pembangunan karakter yang sesuai dengan latar belakang peserta didik. Strategi pemecahan masalah yang telah dilaksanakan penulis diuraikan dalam bagan berikut:

 

Text Box: Identifikasi permasalahan karakter yang muncul pada peserta didik
Text Box: Menentukan jenis strategi serta metode pembelajaran yang dapat membangun karakter yang diharapakan
Text Box: Penilaian terhadap karakter peserta didik setelah penerapan strategi pembelajaran
Text Box: Menyusun strategi pembelajaran secara rinci (perencanaan)
Text Box: Pelaksanaan strategi pembelajaran di kelas
 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Konsep Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran Memancing Kata merupakan penerapan dari strategi pembelajaran discovery learning. Strategi pembelajaran discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam pembelajarannya ini mengatur pengajaran sedemikian rupa, sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya. Tidak melalui pemberitahuan, tetapi sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip (Djamarah, 2008: 22).

Pengimplementasian strategi pembelajaran tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran di antaranya praktik membuat hasta karya, presentasi, dan blended learning. Metode blended learning adalah metode yang menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video converence. Metode membuat hasta karya, praktik, presentasi, blended learning dipilih karena  memiliki  kelebihan  yang  dapat  membangun  karakter  peserta  didik. Seperti memunculkan kreativitas, kemandirian, rasa percaya diri, kedisiplinan, meningkatkan kemampuan menulis, berpikir, dan belajar dengan semangat meskipun KBM diadakan secara daring.

Dalam pembelajaran secara online ini, penulis menemukan strategi pembelajaran yang diberi nama Memancing Kata melalui Kotasik. Arti nama Memancing Kata adalah menstimulus peserta didik untuk menuliskan kata-kata sesuai dengan yang dialaminya dan bahasanya masing-masing di dalam kertas. Lalu, kertas tersebut dimasukkan ke dalam Kotasik. Strategi ini diterapkan sebagai pengalaman peserta didik dalam meningkatkan kemampuan menulis dan kepercayadiriannya, bahwa menulis itu mudah. Apa yang dirasakan dan dipikirkan dapat dituliskan ke dalam kertas.


Berikut gambaran skema dari strategi pembelajaran Memancing Kata:

Rounded Rectangle: Peserta didik mendengarkan video buatan Tutor tentang menulis puisi dan cara membuat Kotasik.

 


 


Rounded Rectangle: Peserta didik membuat Kotasik sesuai dengan kreativitasnya masing-masing.

Rounded Rectangle: Peserta didik menuliskan peristiwa yang dialami atau perasaannya yang dirasakan dengan menggunakan bahasa masing-masing di kertas. Lalu, kertas tersebut dimasukkan ke dalam Kotasik (dilakukan secara mandiri di rumah).

 


 

Rounded Rectangle: Peserta didik mengambil kertas di dalam Kotasik dan menuliskan isi kertas tersebut ke dalam bentuk puisi didampingi oleh Tutor. Lalu, membacakan puisinya secara bergantian (video conference: Google Meet)

 

 


Rounded Rectangle: Peserta didik mengirimkan puisinya dalam bentuk tulisan ke Classroom.

Penerapan strategi Memancing Kata dilakukan dengan penggunaan media yang disebut Kotasik (Kotak Cerita Asyik). Media ini digunakan saat peserta didik menuliskan peristiwa yang dialami atau perasaan yang sedang dirasakan dengan bahasanya masing-masing. Kotasik ini adalah sebuah kotak yang digunakan sebagai teman peserta didik dalam mencurahkan isi hatinya saat di rumah yang tidak dapat dikatakan kepada orang lain. Secara tidak langsung peserta didik akan terstimulus dengan sendirinya menulis kata-kata. Lalu, tulisan yang tadinya berbentuk narasi diubah menjadi bentuk puisi.

Dengan demikian, menulis puisi yang dirasakan sulit karena harus menggunakan majas, simbol, dan lain-lain sudah tidak dirasakan peserta didik lagi. Hal ini mengacu pada pengertian puisi menurut Herman J. Waluyo, puisi  adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batin.

 

Gambar 2.1: Contoh Kotasik (Kotak Cerita Asik)

 

 

B.     Implemantasi Strategi Pembelajaran

 

1)      Perencanaan.

Konsep yang ditentukan adalah bentuk, tampilan, bahan, dan alat yang akan digunakan untuk membuat strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik, yaitu:

a.      Membuat Kotasik dalam bentuk video untuk dikirimkan kepada peserta didik.

b.      Menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan sebagai berikut:

1.      Kotak tisu/kotak bekas layak pakai

2.      Gunting

3.      Kertas kado/karton

4.      Lem kertas dan isolatif

c.       Peserta didik mulai mendengarkan video cara menulis puisi dan membuat Kotasik. Praktik membuat Kotasik, menulis peristiwa yang dialami atau perasaan yang dirasakan di kertas dan dimasukkan ke dalam Kotasiknya.

 

2)      Pelaksanaan

Strategi dilaksanakan pada pertemuan kedua dengan langkah-langkah berikut ini:

-          Peserta didik memulai pembelajaran dengan berdoa.

-          Mengirimkan presensi dengan mengisi link presensi dan mengirimkan voice note kehadiran di group whatsapp.

-          Tutor menanyakan Kotasik yang sudah diisi oleh cerita peserta didik.

-          Peserta didik bergabung ke Google Meet bersama Tutor.

-          Peserta didik menunjukkan Kotasik yang sudah dibuatnya di pertemuan ke-1.

-          Peserta didik mengambil satu kertas di dalam Kotasik sesuai dengan petunjuk yang diberikan Tutor.

-          Peserta didik mendengarkan penjelasan Tutor terkait dengan bentuk puisi.

-          Peserta didik mengubah tulisan di dalam kertasnya menjadi bentuk puisi dengan didampingi Tutor dan diberikan waktu 10 menit.

-          Peserta didik membacakan puisi buatannya secara bergantian di Gmeet.

-          Peserta didik mengirimkan puisi buatannya ke Classroom.

3)      Penilaian

 Penilaian dilakukan terhadap karakter yang terbentuk dan hasil belajar peserta  didik secara  individu. Penilaian karakter dilakukan oleh Tutor menggunakan lembar observasi karakter di setiap KBM. Sedangkan, hasil belajar peserta didik dilihat dari tugasnya. Indikator yang digunakan dalam penilaian karakter adalah sebagai berikut:

 

Tabel 2.1: Indikator Penilaian Karakter

Nilai

Indikator Nilai

Percaya Diri: sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri dalam atau menyelesaikan sesuatu.

-      Peserta didik mampu mengungkapkan pendapat dengan yakin

-      Peserta didik aktif bertanya dan menjawab dalam proses pembelajaran.

-      Peserta didik menunjukkan sikap percaya diri dalam berbicara atau melakukan kegiatan dokumentasi.

Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

-      Peserta didik  mampu mengerjakan tugasnya secara mandiri.

-      Peserta didik mampu menyelesaikan tugasnya dari awal hingga akhir secara mandiri

Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

-      Peserta didik datang tepat waktu pada setiap kegiatan Peserta didik mengumpulkan tugas sesuai jadwal yang ditentukan.

-      Peserta didik berpakaian sesuai budaya HSKS.

-      Peserta didik mengikuti kegiatan dengan tertib.

-      Peserta didik mampu melakukan konfirmasi kehadiran kepada pihak sekolah.

-      Peserta didik mampu mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan

Gemar Menulis: kesukaan untuk melahirkan pikiran atau perasaan dengan tulisan.

-      Peserta didik mampu menulis apa yang dialami maupun dirasakannya.

-      Peserta didik memahami isi dari tulisan yang dibuatnya

 

C.    Hasil yang dicapai

 Strategi pembelajaran Memancing Kata yang diterapkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat II (setara kelas 4 SD) di PKBM Kak Seto mempengaruhi hasil yang dicapai, yaitu mulai terbentuknya karakter pada peserta didik. Selain itu, hasil belajarnya pun berangsur meningkat. Berikut gambaran perbandingan penilaian karakter dan hasil belajar peserta didik setara kelas 4 PKBM Kak Seto.

 

Tabel 2.2: Perbandingan Nilai Karakter

No.

Nama

Nilai Karakter

Sebelum

Sesudah

D

PD

M

GM

D

PD

M

GM

1

Khanza Carrisa Kurniawan

80

67

67

50

93

78

83

83

2

Zeo Clarion Lytroo

60

78

50

67

87

89

67

83

3

Naila Anjani Putri Ardi

73

44

50

50

80

67

67

67

4

Brisha Kinarian Kayana

73

44

50

50

80

67

67

67

5

Malika Jihan Yusreva

80

78

67

67

93

89

83

83

Keterangan: D= Disiplin, PD= Percaya Diri, M= Mandiri, GM= Gemar Menulis (rincian nilai terlampir)

 Tabel perbandingan karakter di atas membuktikan bahwa, peserta didik mengalami peningkatan dalam karakter percaya diri, mandiri, disiplin, dan gemar menulis yang dinilai dari indikator yang tertera pada tabel penilaian yang sudah dijabarkan sebelumnya. Selain itu juga, terdapat perbandingan nilai Bahasa Indonesia pada tabel di bawah ini:

       Tabel 2.3: Perbandingan Nilai Bahasa Indonesia Pada Latihan Menulis Puisi ke-1 dan 2.

No.

Nama

Latihan Menulis Puisi ke-1

Latihan Menulis Puisi ke-2

1

Khanza Carrisa Kurniawan

75

85

2

Zeo Clarion Lytroo

65

75

3

Naila Anjani Putri Ardi

65

70

4

Brisha Kinarian Kayana

70

80

5

Malika Jihan Yusreva

80

95

 

 D.    Dampak Implementasi Strategi

Dampak yang dapat terlihat setelah pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

1.      Peserta didik mengalami perubahan perilaku yang lebih positif saat pembelajaran Bahasa Indonesia.

2.      Peserta didik lebih kreatif dalam membuat hasta karya.

3.      Peserta didik lebih mandiri belajar di rumah tanpa bertatap muka.

4.      Peserta didik lebih percaya diri atas kemampuannya sendiri dan berani tampil di depan teman-temannya.

5.      Peserta didik mulai senang menulis sesuatu yang dipikirkan dengan bahasanya masing-masing.

6.      Hasil belajar Bahasa Indonesia peserta didik semakin meningkat khususnya di kemampuan menulis.

7.      Peserta didik lebih semangat saat pembelajaran Bahasa Indonesia dan tidak mengeluh lagi.

8.      Peserta didik lebih disiplin saat hadir di group whatsapp dan mengumpulkan tugas sesuai dengan tanggalnya.

 

E.     Kendala dan Solusi

Adapun kendala yang dihadapi selama pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik dan solusi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1.      Peserta didik masih ada yang belum paham mengubah bentuk narasi menjadi bentuk puisi.

Solusinya, orang tua/wali peserta didik dapat membantu menjelaskan kembali sampai peserta didik tersebut paham.

2.      Waktu mempresentasikan hasil tulisan peserta didik di video conference (Gmeet) habis.

Solusinya, peserta didik yang belum kebagian presentasi diwajibkan membuat video saat mempresentasikan hasil tulisannya sesuai dengan tanggal yang disepakati.

 

F.     Faktor-Faktor Pendukung

Dalam pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik mempunyai beberapa faktor yang mendukung. Faktor pendukung tersebut, di antaranya:

1.      Faktor internal: adanya keinginan peserta didik dalam mengubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik.

2.      Faktor eksternal:

ü  Kepala Akademik PKBM Kak Seto yang memberikan kebebasan kepada Tutor untuk menerapkan strategi pembelajaran yang baru.

ü  Sarana dan prasarana yang mudah didapatkan dan memanfaatkan benda yang ada di rumah tanpa harus keluar rumah.

ü  Kerja sama dengan orang tua dalam mendampingi peserta didik belajar jarak jauh.

ü  Pendidikan karakter yang dilakukan dalam lingkup budaya sekolah dan diterapkan di rumah.

 

 G.    Alternatif Pengembangan

Strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik ini akan dilaksanakan terus dan juga akan diterapkan pada  mata  pelajaran  lain, seperti Bahasa Inggris, IPS, IPA, dan PPKn di setiap tingkatan. Sehingga, karakter yang sudah dibangun dapat lebih kuat dan tertanam dalam diri peserta didik. Namun, penggunaan media harus disesuaikan dengan pelajaran dan lebih  inovatif lagi agar strategi yang diterapkan tidak monoton. Selain itu, strategi pembelajaran ini juga dapat digunakan di proses kegiatan belajar mengajar secara online maupun offline.


BAB III

PENUTUP

 

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan tentang upaya membangun karakter peserta  didik paket A PKBM Kak Seto dengan penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata melalui Kotasik (Kotak Cerita Asyik), maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

1.      Strategi pembelajaran Memancing Kata menerapkan strategi pembelajaran  discovery learning. Penerapan strategi ini dilakukan dengan metode praktik membuat hasta karya, presentasi, dan blended learning serta medianya Kotasik (kotak cerita asyik). Arti dari nama Memancing Kata adalah menstimulus peserta didik untuk menuliskan kata-kata sesuai dengan yang dialami atau dirasakannya menggunakan bahasanya masing-masing.

2.      Tahap perencanaan implementasi strategi ini yaitu dengan membuat video tentang puisi dan dikirimkan kepada peserta didik, menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, peserta didik mendengarkan video yang diberikan Tutor, membuat hasta karya Kotasik (kotak cerita asyik), menuliskan peristiwa yang dialami atau perasaan yang dirasakan di kertas dan dimasukkan ke dalam Kotasik, dan mengambil satu kertas yang sudah berisi tulisan. Lalu, mengubah bentuk tulisan narasi menjadi puisi dengan dipandu oleh Tutor melalui Gmeet. Proses penilaian terdapat dua ranah, yaitu hasil belajar dan penilaian karakter secara individu.

3.      Hasil dan dampak dari penerapan strategi ini adalah peningkatan karakter peserta didik serta hasil belajarnya. Sebagian besar peserta didik menunjukkan perubahan perilaku positif saat pembelajaran Bahasa Indonesia.


4.      Kendala yang dihadapi, yaitu peserta didik masih ada yang belum paham mengubah tulisan dari bentuk narasi ke puisi dan waktu mempresentasikan hasil tulisan peserta didik di video conference (Gmeet) habis.

Solusinya, orang tua/wali peserta didik dapat membantu menjelaskan kembali sampai peserta didik tersebut paham dan peserta didik yang belum kebagian presentasi diwajibkan membuat video saat mempresentasikan  hasil tulisannya sesuai dengan tanggal yang disepakati.

5.      Faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan strategi pembelajaran Memancing Kata terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu adanya keinginan peserta didik dalam mengubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. Faktor eksternalnya kebebasan dari kepala akademik PKBM Kak Seto untuk dapat menerapkan strategi pembelajaran  yang baru, sarana dan prasarana, kerja sama dengan orang tua/wali peserta didik, dan PPKyang dilakukan dalam lingkup budaya sekolah serta diterapkan di rumah.

6.      Alternatif pengembangan yang akan dilakukan di PKBM Kak Seto adalah kelanjutan pelaksanaannya dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan  juga  akan diterapkan pada mata pelajaran lain di setiap tingkatan serta dapat digunakan pada KBM online maupun offline.

 

B.     Rekomendasi

Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari penerapan strategi pembelajaran Memancing Kata untuk perbaikan dan pengembangan inovasi ini pada waktu yang akan datang, yaitu:

1.      Bagi lembaga (PKBM Kak Seto) Strategi ini dapat diterapkan oleh semua Tutor agar mempermudah  dalam  penggunaannya,  maka  sebaiknya  dibuat  prosedur penerapan strategi Memancing Kata ini; dan

2.      Bagi Lembaga lain, Strategi pembelajaran Memancing Kata ini dapat diaplikasikan di seluruh jenjang pendidikan dan mata pelajaran dengan materi yang berbeda, karena metode dan media yang digunakan sangat mudah.

  

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan Madrasah Utama Anak Bangsa

  "Pendidikan adalah hal dasar untuk mengokohkan generasi penerus bangsa. Tanpa pendidikan negeri ini akan runtuh. Pendidikan bukan sek...